Rabu, 20 Mei 2009

Pola Siaran Radio Komunitas

Pola Siaran Radio Komunitas
Oleh: Pia Khoirotun Nisa.

Perkembangan teknologi komunikasi massa mengalami kemajuan sangat pesat. Kemajuan teknologi tersebut telah mengantarkan umat manusia semakin mudah untuk berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Jarak yang selama ini terasa amat jauh, sekarang sudah terasa dekat sekali. Berbagai informasi dan peristiwa yang terjadi di belahan dengan secara cepat dapat diketahui oleh manusia pada benua yang lain. Era globalisasi yang ditandai oleh semakin majunya teknologi komunikasi juga disebut dengan era reformasi.
Kemajuan teknologi di bidang komunikasi telah mengantarkan alat komunikasi massa atau yang disebut massmedia dapat menjalankan fungsinya secara baik. Tetapi di balik itu semua dalam menjalankan fungsi tersebut juga ada pelanggaran nilai-nilai yang menjalankan fungsi tersebut juga ada pelanggaran nilai-nilai yang ada. Setidaknya ada tiga fungsi dari komunikasi massa yang meliputi: memberikan informasi, mendidik, dan memberikan hiburan. Ada juga para ahli yang menambahkan fungsi media massa itu dengan fungsi mempengaruhi, fungsi membimbing, dan fungsi mengeritik.
Media massa memiliki efek homogenisasi yang paling kuat kalau hanya terdapat beberapa saluran, beberapa media yang berbeda, dan sedikit pilihan yang hanya dapat dilakukan khal;ayak. Di masa mendatang, akan muncul situasi kebalikannya. Meskipun isi dari setiap program bisa baik atau buruk, “isi” baru yang paling penting dari semuanya ialah eksistensi dari keragaman itu sendiri. Pergeseran dari pilihan yang sedikit ke lingkungan media dengan pilihan tinggi, bukan hanya memiliki implikasi kultural saja, melainkan politik.
Radio sebagai Media Elektronik, dimasukkan kepada Komunikasi Massa, karena ada berita yang disiarkan secara luas dan dapat didengar oleh orang banyak. Radio sebagai media massa muncul setelah adanya film, yakni sekitar tahun 1920. Di Amerika Serikat orang yang dinilai berjasa dalam penemuan radio adalah Dr.Lee De Forest, David Sarnoff, dan Dr. Frank Conrad. Penyiaran informasi dalam bentuk berita dan penyiaran musik oleh radio hampir bersamaan. Tetapi yang terkenal adalah penyiaran kegiatan pemilihan umum presiden Amerika Serikat pada tanggal 2 Nopember 1920 yang dianggap sebagai penyiaran berita pertama secara luas dan teratur kepada masyarakat.
Sekarang radio masih tetap memainkan perannya sebagai Media Massa, meskipun televisi dan surat kabar atau Majalah mengalami kemajuan pesat, baik kualitas maupun kuantitasnya. Bahkan radio mempunyai kelebihan tersendiri, sebab seorang dapat mengikuti sambil tetap melakukan pekerjaannya. Berbeda dengan surat kabar atau televisi yang memerlukan penglihatan.
Media penyiaran merupakan bentuk lain komunikasi massa yang berguna untuk menciptakan kerangka berpikir yang sama bagi semua warga masyarakat, yang berfungsi sebagai informasi, hiburan, menyalurkan opini publik, kontrol sosial, kritik, dan mendidik (menyajikan pengetahuan).
Media komunikasi massa akan mengantarkan perubahan atau transformasi budaya masyarakat. Ummat Islam sebagai bagian penduduk dunia adalah konsumen dari produk berbagai media massa tersebut.
Pakar Komunikasi Fisip UI, M. Alwi Dahlan menengarai munculnya penyakit kecemasan informasi pada sebagian masyarakat kita belakngan ini, karena laju pertumbuhan dan akumulasi pengetahuan serta informasi mengalami peningkatan sangat cepat secara eksponensial. Pesatnya pertumbuhan dan akumulasi pengetahuan serta informasi mengalami peningkatan sangat cepat secara eksponensial. Pesatnya pertumbuhan informasi saat ini, bukan lagi hanya menyangkut jumlah, tetapi juga jenis, kualitas, dan kompleksitas informasi yang berkembang di segala bidang, termasuk yang tidak atau belum tentu berguna, disamping limbah informasi. Begitu rupa perkembangannya, sehingga mulai menimbulkan gejala “penyakit” kecemasan informasi terlihat karena orang mengumpulkan informasi sebanyak informasi yang tepat dalam bentuk yang sesuai, dapat ditemukan dengan cepat dan dimanfaatkan pada waktunya. Arus informasi ynag tersedia bagi berbagai lapisan masyarakat sangat banyak dan sukar dikendalikan atau diawasi. Dari satu segi, arus yang besar ini berguna meningkatkan kemampuan SDM (Sumber Daya Manusia) sekaligus memperkuat ketahanan nasional. Tetapi segi lainnya, arus informasi yang membanjir akan menenggelamkan SDM yang jumlahnya masih sedikit.
Disamping jarak yang semakin dekat, masyarakat juga semakin banyak mendapatkan pilihan sarana untuk menyerap informasi. Bila pada awalnya, masyarakat hanya mendapatkan informasi dari pers cetak seperti surat kabar dan majalah, sekarang sarana tersebut semakin banyak dengan munculnya media elektronik, seperti halnya radio yang telah menjadi media komunikasi massa yang cukup ampuh.
Radio adalah suara. Suara merupakan modal utama terpaan radio ke khalayak dan stimulasi yang dikoneksikan kepadanya oleh khalayak. Sedangkan;
Radio komunitas adalah stasiun siaran radio yang dimiliki, dikelola, diperuntukkan,diinisiatifkan dan didirikan oleh sebuah komunitas. Pelaksana penyiaran (seperti radio) komunitas disebut sebagai lembaga penyiaran komunitas.
Dibandingkan media cetak, radio adalah;
1. Audio
2. Media sederhana
3. Bersistem durasi
4. Santai dikonsumsi
5. Selintas/seketika
6. Harus direkam
Radio melebihi media online. Radio is the magic medium. Menurut Marshl Mc Luchan, radio affects most people intimately, person to person, offering aworld of unspoken communication between write, speaker, and listener.
Media radio dipandang sebagai “kekuatan kelima” the fifth state” setelah lembaga eksekutif (pemerintah), legislatif (parlemen), yudikatif (lembaga peradilan), dan pers surat kabar. Disebut kekuatan kelima antara lain karena radio memiliki daya tarik tersendiri, seperti kekuatan suara, musik dan efek suara.

 Pengertian Komunikasi Massa
Untuk melihat pengertian komunikasi massa, terlebih dahulu dijelaskan pengertian komunikasi itu sendiri diantaranya:
Istilah komunikasi atau dalam bahasa inggris communication sesungguhnya berasal dari bahasa Latin communicatio yang bersumber dari kata communis dengan arti sama. Kata sama yang dimaksu di sini ialah kesamaan makna. Jika dua orang terlibat dalam komunikasi, maka komunikasi disebut berlangsung dengan baik, selama ada kesamaan makna antara satu sama lainnya. Untuk mencapai kesamaan makna antara satu sama lainnya. Untuk mencapai kesamaan makna dalam pembicaraan, keduanya sama mengerti bahasa yang dipergunakan dalam proses komunikasi. Namun demikian, meskipun antara kedua sama-sama memakai bahasa yang sama, belum tentu antara keduanya mempunyai makna yang sama tentang isi komunikasi. Percakapan dikatakan komunikatif apabila makna yang dipahami dari percakapan tersebut sama persis antara yang berbicara dan yang mendengar pembicaraan.
Kata komunikasi dalam bahasa inggrisnya communication berasal dari bahasa latin Communicatus yang berarti “berbagi atau menjadi milik bersama.
Menurut Charless R. wright “ Komunikasi” berarti suatu proses sosial .
Pengertian komunikasi secara etimologi, bahwa istilah komunikasi berasal dari bahasa inggris communication yang berasala dari bahasa latin communicatio yang berarti pemberitahuan atau pertukaran pikiran, makna hakiki dari communicatio ini adalah communis yang berarti sama atau kesamaan arti.
Sama halnya dengan pengertian tersebut, Astrid Susanto mengemukakan, perkataan komunikasi berasal dari kata communicare , yang di dalam bahasa latin mempunyai arti berpartipasi atau memberitahukankata communis berarti milik bersama atau berlaku dimana-mana.
Sedangkan secara terminologi komuniukasi berarti proses penyampaian suatau pernyataan oleh seseorang kepada orang lain dimana komunikasi yang melibatkan sejumlah orang dan seseorang menyatakan sesuatu kepada orang lain.
Sekarang dilihat pengertian komunikasi massa. Jalaluddin Rakhmat merangkum beberapa definisi komunikasi massa sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim melalui media cetak atau elektronis sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat. Perkataan “dapat’ dalam definisi ini menekankan pengertian bahwa jumlah sebenarnya penerima komunikasi massa pada saat tertentu tidaklah esensial.


 Pengertian Radio
Secara Etimologi, pengertian radio adalah pengiriman suara atau bunyi melalui udara.
Peter Salim mengartikan radio sebagai berita yang disiarkan melalui radio atau usaha penyiaran berita melalui radio.
Secara teknologi , radio adalah pengiriman sinyal oleh modulasi gelombang elektromagnetik. Gelombang ini melintas (merambat lewat udara dan kevakuman angkasa, gelombang ini tidak memerlukan medium pengangkutan.
Secara umum radio atau radio siaran merupakan salah satu jenis media massa, sarana atau saluran komunikasi massa seperti halnya surat kabar, majalah, atau televisi.
Menurut Ton Kertapati, pada dasarnya radio adalah “Medium untuk bercerita yang dalam permulaannya segala apa yang disiarkan mempunyai bentuk cerita.
Sedang pengertian radio siaran menurut terminologi, menurut peraturan pemerintah, radio siaran adalah pemancaran radio yang langsung ditujukan kepada umum dalam bentuk suara dan mempergunakan gelombang radio sebagai media.


 Pengertian Radio Komunitas
Radio komunitas adalah stasiun siaran radio yang dimiliki, dikelola, diperuntukkan,diinisiatifkan dan didirikan oleh sebuah komunitas. Pelaksana penyiaran (seperti radio) komunitas disebut sebagai lembaga penyiaran komunitas.
Radio komunitas juga sering disebut sebagai radio sosial, radio pendidikan, atau radio alternatif. Intinya, radio komunitas adalah “dari, oleh, untuk dan tentang komunitas’.

 Perkembangan di Indonesia
Radio komunitas di Indonesia mulai berkembang pada tahun 200. Radio komunitas merupakan buah dari reformasi politik tahun 1998 yang ditandai dengan dibubarkannya Departemen Penerangan sebagai otoritas tunggal pengendali media di tangan pemerintah. Keberadaan radio komunitas di Indonesia semakin kuat setelah disahkannya Undang-undang nomor 32 tahun 2002 tentang penyiaran. Menurut UU Penyiaran No. 32/2002 terdapat tiga jenis radio siaran, yaitu;
1. Radio publik menggantikan radio pemeintah
2. Radio komersial
3. Radio komunitas
Ketiganya memiliki karakteristik tersendiri dan berkekuatan hukum setara.




Secara historis perkembangan radio di Indonesia dapat dilihat sebagi berikut:
Periode Misi Siaran Teknologi
1925-1940-an


1950-1960-an


1970-1980-an


1990-an-sekarang Alat Perjuangan antikolonialisme Belanda, Jepang, dan Sekutu.
Alat mobilisasi ideologi rezim otoriter Orde Lama dan orde Baru
Alat mobilisasi pembangunan, sarana berbisnis, dan hiburan
Medium bisnis, hiburan, pencerahan publik, dan demokrasi Amatir/AM


Amatir/AM


Profesional/FM, AM


AM, FM, internet-satelit, jaringan.

Saat ini di Indonesia terdapat lebih dari 300 radio komunitas. Radio-radio komunitas tersebut tersebar di seluruh wilayah Indonesia yang sebagia di antaranya telah menggorganisasikan diri dalam organisasi Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI), Jaringan Independen Radio Komunitas (JIRAK CELEBES).
Radio komunitas dibedakan dengan radio publik karena radio komunitas melayani komunitas yang secara geografis terbatas, sementara radio publik melayani kepentingan yang secara geografis melingkupi seluruh nasional, kepemilikan dana, dan pengelola radio komunitas dilakukan sendiri, sedangkan radio publik memperoleh dukungan formal dari negara dalam bentuk anggaran rutin.
Radio komunitas dibedakan dengan radio komersil karena segenap olah siar radio komunitas tidak untuk mencari keuntungan komersial sebagaimana radio komersil. Radio komunitas muncul dari komunitas karena kebutuhan setempat, sedangkan radio komersial dapat didirikan oleh individu yang mampu secara finansial sebagai bentuk usaha yang sah.
Menurut Robert Mc Leish, tipe radio yang populer adalah:
Public service station: radio yang dimiliki dan melayani kepentingan umum secara nasional
1. Commercial station: radio milik pribadi untuk mencari keuntungan komersial
2. Government station: radio pemerintah yang digunakan untuk kepentingan umum
3. Government owned station: radio milik pemerintah yang sepenuhnya digunakan untuk propaganda
4. Institutional ownership station: radio yang dimiliki ormas, kampus, dan LSM
5. Community ownership, radio milik komunitas kecil di suatu kelurahan.
Di Indonesia sebelum 1998 hanya dikenal dua tipe radio, yaitu radio pemerintah (government owned station) dan radio komersial. Meskipun radio komunitas sudah mulai ada, secara politik dilarangdan dicap sebagai radio gelap.


Bentuk Radio Publik Komunitas Radio Komersial
Sifat pengelolaan

Jangkauan geografi

Pemilik dan pengelola

Pembuatan Keputusan siaran Nonprofit 9tidak mencari untung)
Nasional, Internasional
Negara dibawah Kementrian Penerangan
Buttom up (aspirasi dari bawah) Nonprofit

Sangat lokal

Kelompok masyarakat

Buttom up (aspirasi dari bawah) Profit (Mencari untung)
Lokal, jaringan

Individu atau kelompok usaha

Top down (ditentukan oleh pengelola)

Dibandingkan dengan televisi, televisi sebenarnya lebih lengkap daripada radio sebab, jika radio bersifat auditif-hanya untuk didengarkan- televisi bersifat audio-visual-selain untuk didengarkan, juga untuk dilihat. Meskipun demikian, sampai sekarng televisi belum pernah diberi julukan “kekuasaan keenam” (the sixth estate).
Para ahli komunikasi memberi julukan kekuasaan kelima kepada radio karena dibuktikan oleh sejarah yakni ketika menjelang, semasa dan sesudah Perang Dunia II, tatkala Jerman Italia, dan Jepang di satu pihak, terlibat dalam perang radio dengan inggrs, Amerika, Rusia, dan negara-negara lainnya di lain pihak.
Sampai sekarang pun, jika terjadi perebutan kekuasaan disebuah negara, diantara sekian banyak media massa, yang pertama-tama diincar adalah stasiun radio siaran. Mengapa radio dijuluki kekuasaan kelima? Ada tiga faktor yang mendukungnya:
1. Radio bersifat langsung
2. Radio tidak mengenal jarak dan rintangan
3. Radio memiliki daya tarik
Itulah faktor-faktor yang menyebabkan dijulukinya radio sebagai the fifth estate; langsung, tidak mengenal jarak dan rintangan, serta memiliki daya tarik keefektifan radio siaran semakin didukung pula oleh produk teknologi mutakhir, seperti pemancar sistem frequency modulation (FM), transistor.
 Jaringan Radio Komunitas Indonesia
Jaringan radio komunitas Indonesia (JRKI) dideklarasikan pada tahun 2002. Di dalam organisasi JRKI terdapat jaringan radio komunitas daerah yaitu JRK Sumatra Barat, JRK Lampung, JRK Banten, JRK Lombok, JRK Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, dan JRK Papua.
Meskipun sudah dikenal luas di Amerika dan Eropa, radio komunitas (community radio) baru populer di Indonesia sejak UU No.32/2002. “ Komunitas” adalah satu dari sejumlah istilah untuk radio yng berbasis lokal, yaitu:
1. Radio alternatif. Alternatif dari dua model penyiaran mainstream yang hanya melayani propaganda negara (state oriented)dan melayani kepentingan pengusaha (market oriented) melalui radio siaran komersial dan radio negara.
2. Radio pendidikan. Media belajar sosial, antitesis kecenderungan radio yang hanya memberikan informasi sepihak dan menyuguhkan hiburan semata.
3. Radio swadaya. Ciri khas radio ini mengandalkan sikap militansi, komitmen sosial, dan independensi sikap politik dari pengelolanya.

 Jaringan Independen Radio Komunitas (JIRAK CELEBES)
JIRAK CELEBES berkongres pada tanggal 28 September 2005. JIRAK CELEBES beranggotakan 32 radio komunitas di seluruh Indonesia. Ke-32 radio komunitas tersebut mewakili empat tipe radio komunitas , yaitu radio komunitas berbasis komunitas seperti masyarakat adat, masyarakat desa, dan pemulug sampah. Tipe kedua, radio komunitas berbasis iu, misalnya ada isu pendidikan, lingkungan, pembangunan kota, seni budaya dan pemuda. Tipe ketiga, mradio komunita berbasis hobi, berupa musik dan motor. Terakhir radio komunitas berbasis kampus.
Dalam mempermudah koordinasi dan konsolidasi, ke-32 radio komunits itu akhirnya dibagi menjadi 7 wilayah, yaitu Wilayah Makassar, Wilayah Ajatappareng, Wilayah Luter (Luwu Toraja dan Enrekang), Wilayah Bosowa, Wilayah Tengah (Barru, Pangkep dan Maros), Wilayah Bulukumba, Sinjai, selayar dan bantaeng, dan Wilayah Sulawesi Barat.
Di tingkat lokal, Perkumpulan Jurnalis Advokasi Lingkungan (JURNAL Celebes), dan tingkat nasional bersama Yayasan TIFA Jakarta dan COMBINE Resource Institution, CRI Yogyakarta cukup banyak mendukung dan mendorong pembentukan JIRAK CELEBES dan pengembangan kapasitas penyelenggara radio komunitas di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat ters.
 Peran dan Fungsi
Radio komunitas sebagai slah satu bagian dari sistem penyiaran Indonesia secara praktek ikut berpartisipasi dalam penyampaian informasi yang dibutuhkan komunitasnya, baik menyangkut aspirasi warga masyarakat maupun program-program yang dilakukan pemerintah untuk bersama-sama menggali masalah dan mengembangkan potensi yang ada di lingkungannya.
Penyediaan akses yang lebih terbuka kepada publik sebagai pemilik frekuensi untuk menjadi pendengar, partisipan interaktif, hingga pemilik radio siaran. Secara faktual hal ini ditandai dengan maraknya program talk show, siaran jurnalisme, pengalihan kepemilikan radio pemerintah daerah (RSPD) ke swasta, dan trend radio berjaringan (networking) baik kepemilikan, manajerial, maupun program siaran, tidak hanya antar radio di dalam negeri, tetapi antara radio lokal dan radio asing. Aspirasi publik makin dipertimbangkan oleh pengelola siaran.
Pertumbuhan gerakan untuk menjadikan radio sebagai medium pemberdayaan sosial melalui pendirian radio-radio alternatif di luar radio komersial dan RRI, dengan program siaran yang lebih berkarakter, kritis, dan edukatif. Radio komunitas kampus dan warga berdiri seperti jamur di musimhujan mirip awal hidupnya radio komersial. Ke depan, radio dengan visi dan misi yang terakhir ini diprediksi akan menjadi primadona. Radio-radio komersial akan berkembang sebagai industri primer dalam masyarakat informasi, bukan lagi industri kecil milik keluarga yang dikelola secara feodalistik.
Dibandingkan dengan televisi, televisi sebenarnya lebih lengkap daripada radio sebab, jika radio bersifat auditif-hanya untuk didengarkan- televisi bersifat audio-visual-selain untuk didengarkan, juga untuk dilihat. Meskipun demikian, sampai sekarng televisi belum pernah diberi julukan “kekuasaan keenam” (the sixth estate).
Keberadaan radio komunitas juga salah satunya adalah untuk terciptanya tata pemerintahan yang baik dengan memandang asas-asas sebagai berikut:
1. Hak asasi manusia
Bahwa kemerdekaan menyampaikan pendapat dan memperoleh informasi melalui penyiaran sebagai perwujudan hak asasi manusia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dilaksanakan secara bertanggungjawab, selaras dan seimbang antara kebebasan dan kesetaraan menggunakan hak antarelemen di Indonesia.
2. Keadilan
Bahwa untuk menjaga integrasi nasional, kemajemukan masyarakat dan terlaksananya otonomi daerah maka perlu dibentuk sistem penyiaran nasional yang menjamin terciptanya tatanan system penyiaran yang adil, merata, dan seimbang guna mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pengelolaan, pengalokasian dan penggunaan spektrum frekuensi radio harus tetap berlandaskan pada asas keadilan bagi semua lembaga penyiaran dan pemanfaatannya dipergunakan untuk kemakmuran masyarakat seluas-luasnya, sehingga terwujud diversity of ownership dan diversity of coten dalam dunia penyiaran.

3. Informasi
Lembaga penyiaran radio merupakan media informasi dan komunikasi yang mempunyai peran pentng dalam penyebaran informasi yang simbang dan setimpal di masyarakat memiliki kebebasan dan tanggung jawab dalam menjalankan fungsinya sebagai media informasi, pendidikan, kontrol serta perekat sosial.
Sedangkan dalam buku media now dijelaskan radio memiliki peranan dan fungsi radio sebagai berikut:
1. National commercial networks developed
2. The Radio Act of 1927 reduced radio frequency overlap and interference
3. The Act assigned licenses for frequencies, letting listeners know exactly which channels stations were on.
4. Stations developed the technical ability to deliver ckear, strong signals
5. A critical mass of households with radios created an audience attractive to advertisers.
6. Advertisers became interested in reaching a mass audience through networks and local stations.
7. Advertising became the dominant means of paying for radio
8. Advertisers and commercial station managers pushed the content of radio toward music and other entertainment to draw the largest possible audience.

4. Radio Sebagai Institusi Sosial
Radio adalah sebuah institusi yang kompleks. Secara skematis John R. Bittner menggambarkannya sebagi berikut:


Bagan ini menunjukan bahwa radio sebagaimana media komunikasi massa lainnya tidak berada di “ruang hampa”, tetapi berada di dalam komunitas masyarakat yang heterogen dengan segala macam kompleksitas permasalahan
Sebagai institusi yang berkembang dinamis, begitu banyak harapan masyarakat terhadap radio terutama agar materi siarannya sesuai dengan dinamika pendengar yang makin kritis dan dinamika kehidupan yang makin kompleks. Radio tidak sekedar menghibur dan menjauhkan pendengardari realitas yang harus mereka pecahkan seceptnya.
Untuk itulah dianjurkan agar radio tidak mengakses wacana yang anti sosial, tidak membentuk sikap hedonis, tidak membentuk arena baru bagi konflik sosial yang tidak perlu, tidak membentuk masyarakat yang permisif. Acuh tak acuh terhadap problem sosial, tidak membentuk figur pengkhayal, tetapi figur kreatif dan optimis. Pendek kata, radio harus menyatu dengan situasi aktual disekitar radio itu berada, tidak membawa kultur lain yang menyebabkan dislokasi sosial atau elitisme.
Secara teknologis dan sosiologis, radio dengan suara sebagai modal utamanya memiliki sejumlah kelebihan dan sekaligus kelemahan:

Kelebihan Kelemahan
- Sarana tercepat penyebar informasi dan hiburan.
- Dapat diterima di daerah yang belum memiliki sambungan listrik. Produksi siarannya singkat dan berbiaya murah.
- Masyarakat. Buta hurup bukan kendala harga pesawat murah, mudah dibawa kemana saja. - Hanya bunyi, tidak ada visualisasi yang tampak nyata.
- Tergantung pada kondisi dan stabilitas udara di suatu lokasi. Tidak bisa mengirim pesan dan informasi secara mendetail.
- Terdengar selintas, sulit diingat, dan tidak bisa diulangi. Hanya bisa didengar, tidak bisa di dokumentasikan.

Radio melebihi media online. Radio is the magic medium. Menurut Marshl Mc Luchan, radio affects most people intimately, person to person, offering aworld of unspoken communication between write, speaker, and listener.
Dalam propgramnya radio menawarkan; focused on music (at least a quarterof the schedule), but also included news, comedy, variety shows, soap operas, detective, dramas, suspense, and action adventures. Thus many of kinds of programming that we now associate with television were depeloped.
Secara skematis peran sosial radio sebagai institusi diruang publik sebagai berikut:
PERAN SOSIAL RADIO
Sosialisasi

Aktualisasi

Advokasi
1. Menyebarluaskan informasi dan hiburan
2. yang membuat optimisme serta menjalin interaksi dialogis antar pendengar.
3. Menjalin komunikasi untuk saling berkarya, mengubah berbagai persepsi dan kecurigaan yang tidak perlu.
1. Menyegarkan memori pendengar terhadap peristiwa aktual dan momentum yang penting bagi kehidupan mereka.
2. Mengagendakan masalah-masalah sosial agar menjadi isu dan keprihatinan bersama ketimbang masalah personal.
1. Mendesak makin terbukanya kebijakan politik-ekonomi bagi partisipasi seluruh lapisan pendengar
2. Memediasi antar berbagai pihak yang sedang berkonflik sehingga muncul solusi damai dan saling menguntungkan.

Berbicara mengenai fungsi radio komunitas tidak terlepas dari fungsi media massa itu sendiri. Dalam hal ini Harold D Laswell menyebutkan bahwa media massa mempunyai tiga fungsi utama yaitu:
The surveiiance of the Envirinment (mengungkapkan dan menyebarkan informasi mengenai kejadian disuatu lingkungan dan penggarapan berita).
The Corelation of the part of socienty in responding to the nvironment (kegiatan
Network radio remained strong through World Warr II, which in many ways represented a peak in the importance of radio compared to other advertising media. Money spent on radio ads doubled from 1939 to 1945, surpassing expenditures obn newspaper ads in 1943. radio was the paramount information medium of the war, both domestically and internationally, the use of radio propaganda purposes frightened many people ang stimulated research into the power of mass media over their audiences.
Edward R. Murrow broadcast memorable live reports from London during World War II, dramatically covering the German bombing of London and other battefields. His reports conveyed vivid, realisic, and often highly moving word pictures. He emerged as one of the most credible and admired newsmen in the well respected CBS news organization. He preferred to stay in the news room, rather than getting into administration, and he survivednthe shift to television news better than many other radio newspeople.
Dengarkanlah siaran radio, semua cerita yang dijadikan berita oleh media itu selalu berupa fenomena yang ada di dalam masyarakat. Siaran selalu berangkat dari atau bercerita tentang kenyataan yang diangkat baik dari peristiwa maupun dari masalah.



Daftar Pustaka
Amir Mafri Drs. H., M.Ag.. Etika Komunikasi Massa Dalam Pandangan Islam; Pengantar Jalaluddin Rakhmat; PT LOGOS Wacana Ilmu, Pamulang Timur, 1999.
Effendy Uchjana Onong Prof. Drs., M.A.; Dinamika Komunikasi; PT Remaja Rosdakarya; 2004.
Iskandar Maskun dan Atmakusumah, Panduan Jurnalistik Praktis, Mendalami Penulisan Berita dan Feature, Memahami Etika dan hukum Pers. Lembaga Pers Dr. Soetomo. Friedrich Ebert Stiftung..Jakarta 2004.
Larose Robert, dan Sttraubhar Joseph, Media Now:Communications Media In The Informations Media In The Information Age, (USA: Wadsworth Group, 2002), cet. E-3,
Masduki, Menjadi Broadcaster Profesional, Pustaka Populer LkiS
Muis A, Indonesia di era Dunia Maya “Teknologi Dalam Dunia Tanpa Batas”, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2001. h.110-111.
Rakhmat Jalaluddin, Drs. M.SC. Metodologi Penelitian Komunikasi, PT Remaja Rosda Karya-Bandung. 2005.
Syamsul Asep, M. ramli, Broadcast Journalism, Yayasan Nuansa Cendekia, Bandung 2004.
http://id.wikipedia.org/wiki/Radio-komunitas # Perkembangan-di-Indonesia 09/06/2006
http://www.combin.or.id/CRI/09/06/2006

.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar