Rabu, 20 Mei 2009

PENDIDIKAN AKHLAK ANAK DILINGKUNGAN KELUARGA MENURUT IMAM AL-GHAZALI

PENDIDIKAN AKHLAK ANAK DILINGKUNGAN KELUARGA
MENURUT IMAM AL-GHAZALI
Oleh: Pia Khoirotun Nisa. S.Sos.I., S.Pd.I.

Dalam menguraikan pokok bahasan pendidikan akhlak anak dilingkungan keluarga menurut Imam al-Ghazali, penulis akan membaginya dalam beberapa sub bahasan. Sebagai salah satu ulama Hujjatul Islam yang telah lama dalam mengabdikan diri pada gelombang pendidikan. Beranjak dari pendidikan akhlak menurut pandangan Imam al-Ghazali, penulis akan membagi pokok bahasan ini adalah sebagai berikut: Gagasan Imam al-Ghazali tentang pendidikan akhlak dan Metode pendidikan akhlak dilingkungan keluarga menurut Imam al-Ghazali.

A. Gagasan Imam Al-Ghazali Tentang Pendidikan Akhlak
Suatu bidang ilmu pengetahuan yang paling banyak mendapat perhatian, pengkajian dan penelitian oleh Imam al-Ghazali adalah lapangan ilmu akhlak (tazkiatu an-Nafs wa ar-Ruh) karena banyak berkaitan dengan perilaku manusia, sehingga setiap kitab-kitanya yang meliputi berbagai bidang selalu ada hubungan dengan materi akhlak dan pembentukan jiwa serta budi pekerti manusia.
Imam al-Ghazali memang begitu besar sekaligus usahanya yang tak pernah berhenti untuk mengarahkan kehidupan manusia menjadi berakhlak, bermoral. Imam al-Ghazali menyelidiki bidang ilmu akhlak ini, dengan berbagai macam metode, antara lain; dengan pengamatan yang teliti, pengalaman yang mendalam, penguji cobaan yang matang terhadap semua manusia dalam berbagai lapisan masyarakat. Oleh karena itu gagasan mengenai pendidikan akhlak (tazkiatun an-Nafs wa ar-Ruh) sangat luas dan mendalam, sebagian dari pemikiran Imam al-Ghazali di bidang akhlak penulis ungkap sebagai berikut:
أن الإعتدال في الأخلاق هو صحة النفس والميل عن الإعتدال سقم ز مرض منها كما أن الإعتدال في مزاج البدن هو صحة له. فتقول مثال النفس في علاجها يمحوالرذائل والأخلاق الرديئة عنها و جاب الفضائل والأخلاق الجميلة إليها.

Artinya:…”Bahwa kebaikan budi pekerti, adalah sehatnya jiwa, miring dari budi pekerti itu bencana dan menjadi penyakit jiwa, sebagaimana baiknya sifat tubuh, adalah menjadi tubuh. Maka baiklah badan manusia kita ambil menjdi contoh. maka kami mengatakan, bahwa seperti jiwa manusia pengobatannya adalah dengan menghilangkan semua perilaku jelek dan akhlak yang rendah dari jiwa. Dan melakukan segala sifat keutamaan dan akhlak yang baik pada jiwa.”

Lebih lanjut Imam al-Ghazali mengemukakan:
إعلم أن الطريق في رياضة الصبيان من أهم الأمور وأوكدها والصبي أمانة عند والدين وقلبه الطاهر جوهرة نفسية سادجة خالية عن كل نفس و صورة وهو قابلة لكل ما نفش مائل إلي كلما بمال به إليه ونعود الخير وعلمه نشأ عليه وسعد في الدنيا والأخرة.
Artinya: ...”Ketahuilah kiranya, bahwasanya melatih anak-anak itu termasuk dari urusan yang sangat penting dan termasuk urusan yang sangat kuat perlunya. Karena anak-anak kecil itu menjadi amanat bagi kedua orang tuanya. Hatinya yang suci adalah sebagai mutiara yang indah, halus, sunyi dari setiap lukisan dan ia condong pada setiap sesuatu yang dicondongkan kepadanya. Maka jikalau anak itu dibiasakan kepada kebaikan dan diajarkan kepada kebaikan, niscaya ia tumbuh pada kebaikan dan ia berbahagia di dunia dan akhirat.”

Gagasan tentang akhlak menurut Imam al-Ghazali, adalah sebagai berikut:
الخلق عبارة عن هيئة في النفس راسخة عنها نصدرالأفعال بسهولة و يسر من غير حاجة إلي فكر وروية فإن كانت الهيئة حيث تصدر عنها الأفعال الجميلة المحمودة عقلا و و شرعا وماحيث تلك الهيئة خلقا حسنا وإن كان الصادرعنهما الأفعال القبيحة سميت التي هي المصدر خلقا سيئا

Artinya: ...” Al-Khuluk adalah ibarat perilaku yang tetap dan meresap dalam jiwa, dari padanya tumbuh perbuatan-perbuatan dengan wajar dan mudah, tanpa padanya tumbuh perbuatan-perbuatan dengan wajar dan mudah, tanpa memerlukan pikiran dan pertimbangan. Maka apabila keadaan yang muncul itu perbuatan baik-baik dan terpuji secara akal dan syara’, maka itu disebut budi pekerti yang baik. Dan apabila perbuatan-perbuatan yang muncul dari keadaan yang buruk, maka menjadi tempat munculnya perbuatan-perbuatn buruk itu disebut budi pekerti buruk.”

Dari gagasan di atas, penulis dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa adalaha merupakan sikap yang tertanam dalam jiwa yang melahirkan perbuatan-perbuatan tertentu secara spontan dan konstan. Perbuatan seseorang dapat dikatakan sebagai akhlaknya jika melakukan perbuatan-perbuatan berdasarkan kepada:
1. Perbuatan itu harus spontan dan konstan, yaitu dilakukan berulang kali, dalam bentuk yang sama sehingga dapat menjadi adat kebiasaan.
2. Perbuatan yang spontan dan konstan itu harus tumbuh dengan mudah sebagai wujud refleksif dari jiwanya tanpa pertimbangan dan pemikiran, yakni bukan adanya tekanan dari orang lain.
3. Antara dorongan jiwa dengan saat melakukannya bersifat spontanitas, karena telah terbiasa, bukan karena pertimbangan untung dan rugi.
Kemudian gagasan Imam al-Ghazali tersebut di atas juga mengemukakan norma-norma kebaikan dan keburukan akhlak dilihat dari pandangan akal pikiran dan syari’at agama Islam. Akhlak yang sesuai dengan akal pikiran dan syari’at dinamakan akhlak mulia dan baik, sebaliknya akhlak yang tidak sesuai dengan akal pikiran dan syari’at dinamakan akhlak tercela dan buruk, yang hanya menyesatkan manusia.
Ajaran akhlak menemukan bentuknya yang sempurna pada agama Islam dengan titik pangkalnya pada tuhan dan akal manusia. Adalah amat jelas bahwa dalam al-Qur’an terdapat banyak ayat-ayat yang mengandung pokok-poko akidah keagamaan, keutamaan akhlak dan prinsip-prinsip perbuatan.
Perhatian ajaran Islam terhadap pembinaan akhlak lebih lanjut dapat dilihat dari kandungan al-Qur’an yang banyak sekali berkaitan dengan perintah untuk melakukan kebaikan, berbuat adil, menyuruh berbuat baik dan mencegah melakukan kejahatan dan kemunkaran. Sebagaimana firman Allah berikut ini:
إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون

Artinya:”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemunkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS: al –Nahl, 16:90)

من عمل صالحا من ذكر أو أنثى وهو مؤمن فلنحيينه حياة طيبة ولنجزينهم أجرهم بأحسن ما كانوا يعملون

Artinya:”Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kehidupan yang baik dan sesungguhnya. Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS: al:Nahl, 16:97)

Oleh karena itu Imam al-Ghazali mengibaratkan akhlak yang baik itu dengan keindahan bentuk lahir manusia, yaitu kesempurnaan bentuk lahir bukan hanya dengan indahnya dua biji mata tetapi adanya hidung, mulut dan pipi bahkan seluruhnya harus baik, sehingga menjadi sempurna dan keindahan lahir itu secara mutlak.
Dalam hal ini Imam al-Ghazali mengatakan:
فذلك في الباطن أربعة أركان لابد من الحسن في جميعها حتي يتم حسن الخلق فإذا استوت الأركان الأربعة واعتدت وتناسبت حصل الخلق وهو قوة العلم وقوة الغضب وقوة الشهواة وقوة العدل بين هذه القوي الثلا ث

Artinya:”Maka demikian pula keindahan batin itu ada empat rukun yang harus baik seluruhnya. Jika keempat bagian telah tegak, seimbang dan serasi paduannya, maka akan terwujudlah budi pekerti yang baik. Keempat rukun itu adalah kekuatan ilmu, kekuatan godhob, kekuatan syahwat dan kekuatan adil berada diantara tiga kekuatan tersebut.”

Gagasan Imam al-Ghazali tentang akhlak tersebut menyangkut empat unsur pokok yang ada dalam keindahan batin, sebagaimana yang tertera diatas, jelaslah fungsi keempat unsur tersebut dengan diberikannya ibarat-ibarat dan contoh-contoh yang nyata, membimbing individu agar berusaha mencapai seimbang dan terpadu dari unsur-unsur itu, supaya menjadi sempurna budi pekertinya secara penuh.
Akhlak manusia yang ideal dan mungkin dapat dicapai dengan usaha pendidikan dan pembinaan yang sungguh-sungguh ialah terwujudnya keseimbangan. Akan tetapi ada manusia yang dapat mencapai keseimbangan empat unsur akhlak tersebut, kecuali Rasulullah SAW, karena beliau sendiri ditugaskan oleh Allah SWT untuk meyempurnakan akhlak manusia, karenanya beliau sendirilah yang sempurna akhlaknya.
Dalam pandangan Imam al-Ghazali, bahwa tujuan (ahdaf) Pendidikan Islam yang utama adalah menjaga kesucian fitrah manusia dan melindunginya agar tidak jatuh ke dalam penyimpangan serta mewujudkan penghambaan dirinya kepada Allah SWT. Yang demikian itu adalah karena Allah menciptakan manusia bertujuan untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:
وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون

Artinya:…”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menyembah kepada-Ku.”(Adz-Dzariyat, 51-56)

Tujuan yang hendak direalisasikan oleh kerja tarbiyah adalah sesuatu yang utama dan agung, karena ia adalah hal yang sangat dicintai Allah SWT. dan manusia itu tidak diciptakan kecuali untuk sesuatu yang dicintai dan diperintahkan-Nya, yaitu supaya beribadah kepada-Nya. Berikut ini akan dikemukakan beberapa tujuan pendidikan akhlak menurut pandangan Imam al-Ghazali, yaitu:
1. Membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, karena orang yang memiliki keimanan yang tinggi dan ketaqwaan akan senantiasa dekat dengan Allah. Mereka beriman dan bertakwa, dengan melakukan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, dengan penuh keikhlasan akan senantiasa dekat dengan-Nya.
2. Memiliki ilmu pengetahuan dan mengamalkannya bagi kesejahteraan umat Manusia. Al-Ghazali mengumpamakan orang yang memiliki ilmu dan menyadarinya sehingga ia mengamalkan ilmu itu sebagai orang yang yang agung di alam malakut, ia bagaikan matahari yang menyinari alam di sekitarnya dan ia memancarkan sinar dari dirinya sendiri, orang itu bagaikan farfum misk (kesturi) yang menebarkan keharuman disekelilingnya, sedang ia sendiri memiliki bau harum.
3. Mencapai kelejatan ilmiah
Sebagai tujuan dari pendidikan adalah untuk ilmu pengetahuan itu sendiri. Mengenai hal hal ini ia menyatakan bahwa bila seseorang mengadakan penelitian dan penalaran terhadap ilmu pengetahuan, maka ia akan menjumpai kenikmatan dan kelezatan padanya. kenikmatan dan kelezatan padanya. Kenikmatan dan kelezatan padanya. Kenikmatan dan kelezatan yang dimaksud disini adalah kenikmatan dan kelezatan intelektual, sehingga dapat menumbuhkan kecintaan mendalam terhadap ilmu, dan mendalaminya dengan penuh semangat dan kesungguhan.
4. Membentuk keluhuran akhlak dan budi pekerti, al-Ghazali mengarahkan pendidikannya pada pembentukan akhlak yang qur’ani dan budi pekerti yang luhur. Imam al-Ghazali menyarankan kepada setiap penuntut ilmu dan para ulam tidak diperkenankan mencari ilmu dengan tujuan memperoleh jabatan, meraih harta untuk bermegah-megahan di hadapan orang banyak.
5. Memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Memperoleh kebahagiaan masa kinidan masa yang akan datang,merupakan dambaan semua manusia. Imam al-Ghazali mengatakan, bahwa kedudukan yang paling agung bagi seorang manusia adalah kebahagiaan abadi. Karena itu di jalan untuk mencapainya harus dengan ilmu dan amal.
6. Merehabilitasi akhlak umat yang telah rusak, agar menjadi baik kembali. Memperbaiki berbagai kerusakan lain ditengah-tengah masyarakat, mengarahkan mereka dari kegelapan menuju cahaya dan dari keburukan menuju kebaikan.
7. Menanamkan persaudaraan, kasih sayang sesama umat manusia dan menjaga kelestarian alam semesta. Dalam berbagai kajian Imam al-Ghazali menjelaskan pentingnya menanamkan persaudaraa, kasih sayang terhadap makhluk. kajian itu disebutkan dalam berbagai penjelasan yang cukup panjang lebar, di antaranya dalam bab kasih sayang, persaudaraan dan pengenalan, serta hubungan dengan sesama makhluk.
Jelaslah dapat penulis simpulkan bahwa ibadah yang baik kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah ibadah yang memiliki dampak baik terhadap akhlak, dan pendidikan akhlak yang baik adalah pendidikan yang mampu menumbuhkan sikap penghambaan/peribadahan kepada Allah dengan sempurna dan dengan cara yang paling baik dan memperoleh kebahagiaan yang hakiki (al-sa’adat al-haqiqiyat)..
Pendidikan akhlak yang ditekankan pada pembiasaan, keteladanan, dan latihan yang dilakukan sejak kecil akan menghasilkan perilaku yang ahlaqi. Karena perbuatan baik dan dibiasakan itu akan mendarah daging, mempribadi, dan dengan mudah dapat dilakukan.
Fathiyah Hasan Sulaiman mengemukakan bahwa: Pandangan Imam al-Ghazali tentang pendidikan akhlak, seperti mengarahkan perangai anak, sangat kokoh. Di dalam bukunya, dia sering menerangkan bahwa proses pendidikan merupakan proses interaksi antara fitrah dengan lingkungan. Dia mengkritik orang-orang yang berpandangan bahwa tabi’at manusia tidak dapat diubah. Dikatakannya, bahwa mereka itu adalah orang-orang yang malas. Mereka memandang proses pendidikan dan memperbaiki akhlak anak-anak sangat sulit. Mereka mengemukakan dalil bahwa penciptaan atau bentuk lahir manusia itu tidak mungkin dapat diubah. Tidak mungkin orang yang berbadan tinggi dapat dipendekan, dn orang yang jelek dapat dijadikan tampan dan cantik.

Dari keterangan tersebut di atas, Imam al-Ghazali berpendapat jika tabi’at manusia itu tidak mungkin diubah, maka sudah barang tentu nasihat dan petunjuk bahkan pendidikan secara umum akan sia-sia belaka. Betapa kuatnya pandangan Imam al-Ghazali tentang kemungkinan pendidikan seperti memperbaiki, menyempurnakan dan mendidik akhlak individu dan mensucikan jiwa mereka.
Lebih lanjut Fathiyah mengemukakan: Dengan latihan, tabi’at binatangpun bisa diubah, sehingga binatang yang buas menjadi jinak, apalagi manusia. Tabi’at manusia lebih memungkinkan dan lebih mudah diubah dan dibina.
Oleh karena itu Imam al-Ghazali berpendapat bahwa cara yang terbaik untuk memiliki budi pekerti yang utama adalah dengan melalui asuhan dan latihn-latihan melaksanakan sifat-sifat yang baik. Anak-anak dilatih dan dibiasakan membantu orang tua, membantu orang lemah dan menolong masyarakat. Mereka dibawa mengunjungi perkampungan atau tempat-tempat orang miskin, orang-orang ditimpa bahaya alam, tanah longsor, banjir, dan dibawa kepanti-panti asuhan, ke rumah jompo dan ke rumah sakit. Mereka dilatih menyerahkan oleh-oleh yang telah disediakan. Apabila kerendahan hati hendak ditanam dan diterapkan di jiwa yang angkuh, biasakan mengerjakan pekerjaan yang berlumpur dan kotor. Misalnya menyapu jalan, membersihkan sluran air, pekarangan, mesjid, gedung sekolah. Pada malam hari mereka dibawa tidur di masjid atau di mushala, tanpa kasur dan tanpa bantal. Pada mulanya mereka akan sangat kaget, tetapi berkat latihan dan asuhan yang berulang-ulang mereka sendiri merasa senang, tabah dan hilanglah perasaan sombong dan angkuh.
Imam al-Ghazali menganjurkan sifat angkuh dan sifat buruk dilenyapkan dari seseorang dengan latihan-latihan dan prktek yang bertentangan. Imam al-Ghazali menetapkan bahwa budi pekerti dapat diubah melalui asuhan dan latihan-latihan. Kalau tidak demikian apalah artinya ajaran-ajaran Qur’an dan Hadits-hadits Rasul beserta tabligh-tabligh dan khutbah-khutbah. Binatang-binatang seperti anjing dan kuda dapat dijinakan dan dihajar, terlebih lagi anak cucu Adam, demikian kata Imam al-Ghazali.
Keyakinan Imam al-Ghazali dalam meluruskan karakter dan mendidik akhlak melalui budi pekerti adalah kuat sekali. Dengan kata lain aqidah Imam al-Ghazali tentang sesuatu yang dapat diperbuat oleh pendidikan, seperti memperbaiki, menyempurnakan dan mendidik moral dan mensucikan mereka.
Imam al-Ghazali mengatakan:
Apabila anak itu dibiasakan untuk mengamalkan amal yang baik, diberi pendidikan kearah itu, pastilah ia akan tumbuh diatas kebaikan tadi akibat positifnya ia akan selamat sentosa di dunia dan akhirat. Kedua orang tuanya dan semua pendidik, pengajar serta pengasuhnya ikut serta memperoleh pahalanya. Sebaliknya jika anak itu sejak kecil sudah dibiasakan mengerjakan keburukan dan dibiarkan begitu saja tanpa dihiraukan pendidikan dan pengajarannya, yakni sebagaimana halnya seorang yang memelihara binatang, maka akibatnya anak itupun akan celaka dan rusak binasa akhlaknya, sedang dosanya yang utama tentulah dipikulkan kepada orang tuanya, atau pendidiknya yang bertanggung jawab untuk memelihara dan mengasuhnya.

Dari pendapat tersebut diatas, maka terhadap pembiasaan tersebut dimaksudkan agar dimensi-dimensi jasmaniah dari kepribadian individu anak dapat terbentuk dengan memberikan kecakapan berbuat dan berbicara. Tahap pembinaan ini menjadi dasar dan sebagai persiapan untuk kehidupan dan perkembangan kepribadian anak di masa yang akan datang.
Menurut Zakiah Darajat:
Perkembangan agama pada masa anak, terjadi melalui pengalaman hidupnya sejak kecil, dalam keluarga, sekolah dan dalam masyarakat lingkungan. Semakin banyak pengalaman yng bersifat agama, (sesuai dengan ajaran agama), akan semakin banyak unsur agama dalam pribadi anak. Apabila pribadinya banyak unsur agama, maka sikap, tindakan kelakuan, kelakuan dan caranya menghadapi hidup akan sesuai dengan ajaran agama.

Penulis dapat menyimpulkan bahwa pengalaman-pengalaman yang dilalui sejak kecil tersebut, bahkan sejak dalam kandungan, merupakan unsur-unsur yang akan menjadi bagian dari kepribadiannya di kemudian hari. Oleh karena itu pembiasaan-pembiasaan dan latihan-latihan yang merupakan pengalaman bagi anak sejak kecilnya, akan menjadi unsur yang penting dalam pribadinya dan mempunyai pengaruh yang mendalam terhadap kehidupan kelak, karena kepribadiannya itu terbentuk sejak kecil.
Sebagaimana di sebutkan Imam al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumuddin Juz III, sebagai berikut:
وجمع بعضهم علمات حسن الخلق فقال : هو أن يكون كثيرا الحباء قليل الأذي كثيرا العمل الزلل قليل الفضول برواصولا وقورا صبورا شكورا رضيا حليما رفيقا عفيفا شفيقا لا لعنا ولا سباب ولا غماولا مغتابا ولا عجولا ولا حقودا ولا حسودا بشاشايحب في الله ويرضي في الله ويغضب في الله فهذا هو حسن الخلق

Artinya:…”Sebahagian dari mereka ada yang mengumpulkan tanda-tanda kebaikan akhlak, lalu ia mengatakan: “Orang baik itu adalah yang banyak malu, sedikit menyakiti orang, banyak berbuat baik, benar lidahnya, sedikit berbicara dan banyak bekerja, sedikit tergelincirnya, sedikit hal-hal yang tidak perlunya, berbuat kebaikan, banyak silaturrahminya, lemah lembut, banyak sabarnya, banyak terimaksahnya, rela kepada barang yang telah ada, dapat mengendalikan diri ketika marah, banyak kasih sayangnya, dapat menjaga diri dan murah hati kepada fakir dan miskin, tidak mengutuk orang lain, tidak suka memaki-maki, tidaksuka mengadu domba, tidak mencari-cari kesalahan orang lain, tidak tergesa-gesa dalam pekerjaan, tidak pendengki, tidak kikir, tidak ahli hasud, manis muka, bagus lidah, cinta karena Allah, benci karena Allah, rela karena Allah, dan marah krena Allah maka mereka itulah yang baik akhlaknya.”

Dari gagasan akhlak Imam al-Ghazali diatas dapat penulis simpulkan bahwa banyak hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan akhlak yang perlu diajarkan kepada anak-anak selain yang telah disebutkan pada pembahasan tersebut diatas. Seperti dianjurkannya menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya dalam rangka meningkatkan kesehatan. Kemudian mendidik agar anak-anak jangan terlampau banyak bicara yang tidak perlu, anak-anak dilarang berkata kotor, terlebih lagi menyakiti orang lain. Imam al-Ghazali menasihatkan agar anak-anak berlatih berbicara seperlunya, cukup untuk mengutarakan isi hati dan untuk berkomunikasi dengan orang sekitarnya, bukan untuk menghambur-hamburkan waktu yang tidak ada manfaatnya.
Berdasarkan gagasan diatas, jelaslah bahwa gagasan Imam al-Ghazali tentang akhlak anak tersebut merupakan pembinaan pribadi dengan menanamkan dan membina nilai-nilai kemasyarakatan, kesusilaan dan keagamaan yang terpadu, sehingga terwujud pula sikap, mental, akhlak yang terpuji.

B. Metode Pendidikan Akhlak Anak dilingkungan Keluarga Menurut Imam al-Ghazali
Akhlak adalah termasuk permasalahan terpenting dalam kehidupan ini. Tingkatannya berada setelah iman. Kita beriman dan beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah antara hamba dan Tuhannya, atau hubungan antara makhluk dengan khaliknya. Sedangkan akhlak selain hubungan antara hamba dengan Tuhannya, adalah hubungan dalam bermu’amalah dan bermusyarokah antara sesama manusia, juga mengatur hubungan manusia dengan segala yang terdapat dalam wujud dan kehidupan.
Akhlak menurut pengertian Islam adalah merupakan salah satu hasil dari implementasi iman dan ibadah, bahwa iman dan ibadah manusia tidak sempurna kecuali pada akhirnya ia akan menghasilkan akhlak yang mulia dan mu’amalah yang baik terhadap Allah sebagai khaliknya dan juga terhadap sesama makhluk. Seseorang tidaklah sempurna imannya terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala melainkan ia harus benar-benar beriman, menyempurnakan apa yang dijanjikan Allah dengannya dalam taat dan ibadah. Di antara tanda-tanda sifat munafik yang paling menonjol adalah akhlak yang buruk, sebaliknya di antara perhiasan-perhiasan yang paling mulia bagi manusia sesudah iman, taat, dan bertaqwa kepada Allah, adalah akhlak yang mulia.
Terdapat dalam kitab suci Al-Qur’an sebanyak 1504 ayat yang berhubungan dengan akhlak, baik dari segi teori maupun daris segi praktisnya. Jadi kadar ini mencapai hampir seperempat dari ayat-ayat Al-Qur’an membicarakan akhlak. Di antara ayat-ayat itu adalah sebagai berikut:
وإنك لعلى خلق عظيم

Artinya:…”Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada dalam akhlak yang mulia.” (QS: Al-Qalam: 4)
Ayat ini menjelaskan akhlak adalah sebagai sifat Nabi Muhammad SAW.yang paling mulia, adan ujian yang paling tinggi yang diberikan kepadanya, dan akhlak Nabi ini merupakan pelaksanaan praktis sebagai makna kesempurnaan, kesopanan, dan akhlak yan baik yang terdapat dalam al-Qur’an al-Karim.
Akhlak manusia yang ideal dan mungkin dapat dicapai dengan usaha pendidikan dan pembinaan yang sungguh-sungguh ialah terwujudnya keseimbangan. Akan tetapi ada manusia yang dapat mencapai keseimbangan empat unsur akhlak tersebut, kecuali Rasulullah SAW, karena beliau sendiri ditugaskan oleh Allah SWT untuk menyempurnakan akhlak manusia karenanya beliau sendirilah yang sempurna akhlaknya. Pendidikan akhlak yang ditekankan pada pembiasaan, keteladanan, dan latihan yang dilakukan sejak kecil akan menghasilkan perilaku yang akhlaqi. Karena perbuatan yang baik dan dibiasakan itu akan mendarah daging, mempribadi, dan dengan mudah dapat dilakukan.
Sebelum anak-anak berpikir logis dan memahami hal-hal yang abstrak, serta belum sanggup menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah, maka contoh-contoh, latihan-latihan dan pembiasaan-pembiasaan mempunyai peranan penting, dalam membina pribadi anak, karena masa kanak-kanak adalah masa paling baik untuk menanamkan dasar-dasar pendidikan akhlak.
Oleh karena itu Imam al-Ghazali berpendapat bahwa cara yang terbaik untuk memiliki budi pekerti yang utama adalah dengan melalui asuhan dan latihan-latihan melaksanakan sifat-sifat yang baik. Anak-anak dilatih dan dibisakan membantu orang tua dilingkungan keluarga, membantu orang lemah dan menolong masyarakat Imam al-Ghazali menganjurkan supaya sifat angkuh dan sifat buruk dilenyapkan dari seseorang dengan latihan-latihan dan praktek yang bertentangan.
Sungguh sangat berarti yang disarankan Imam al-Ghazali dalam upaya menyuburkan akhlak yang mulia, terutama anak-anak, di mana harus melalui ajaran dan pekerjaan atau lewat teori dan praktek, disamping memberikan contoh yang baik dalam pergaulan. Karenanya tingkah laku yang buruk dan sifat-sifat jahat bila menjadi adat kebiasaan bagi anak-anak, akan sukar merubahnya sekaligus kepada tingkah laku yang terpuji. Adat dan kebiasaan itu sendiri telah membuat sifat jahat menyusup ke dalam hati anak-anak. Imam al-Ghazali menyarankan agar tabi’at-tabi’at yang jahat dialihkan lebih dahulu kepada sifat-sifat yang kurang jahat, kemudian secara bertahap dan bertingkat dipindahkan kepada sifat-sifat yang baik.
Imam al-Ghazali menetapkan bahwa budi pekerti dapat diubah melalui asuhan dan latihan-latihan. Kalau tidak demikian apalah artinya ajaran-ajaran Qur’an dan Hadits-hadits Rasul beserta tabligh-tabligh dan khutbah-khutbah. Binatang-binatang seperti anjing dan kuda dapat dijinakan dan diajar, terlebih lagi anak cucu Adam, demikian kata Imam al-Ghazali.
Imam al-Ghazali mengemukakan metode mendidik anak dengan mencontoh, latihan, dan pembiasaan kemudian nasihat dan anjuran sebagai alat pendidikan dalam rangka membina kepribadian anak sesuai dengan ajaran qur’ani. Pembentukan kepribadian tersebut berlangsung secara bertahap dan berkembang, sehingga merupakan proses menuju kesempurnaan.
Demikian Imam al-Ghazali sangat menganjurkan agar mendidik anak dan membina akhlaknya dengan latihan-latihan dan pembiasaan-pembiasaan yang sesuai dengan perkembangan jiwanya walaupun seakan-akan dipaksakan, agar anak dapat terhindar dari keterlanjuran dan menyesatkan. Oleh karena pembiasaan dan latihan akan membentuk sikap tertentu terhadap anak, yang lambat laun sikap tersebut akan bertambah jelas dan kuat, akhirnya tidak tergoyahkan lagi karena telah mendarah daging dan menjadi bagian dari kepribadiaannya.
Imam al-Ghazali mengatakan:
“Apabila anak itu dibiasakan untuk mengamalkan amal yang baik, diberi pendidikan kearah itu, pastilah ia akan tumbuh di atas kebaikan tadi akibat positifnya ia akan selamat sentosa di dunia dan akhirat. Kedua orang tuanya dan semua pendidik, pengajar serta pengasuhnya ikut serta memperoleh pahalanya. Sebaliknya jika anak itu sejak kecil sudah dibiasakan mengerjakan keburukan dan dibiarkan begitu saja tanpa dihiraukan pendidikan dan pengajarannya, yakni sebagaimana halnya seorang yang memelihara binatang, maka akibatnya anak itupun akan celaka dan rusak binasa akhlaknya, atau pendidiknya yang bertanggung jawab untuk memelihara dan mengasuhnya.”

Dari pendapat tersebut diatas, maka terhadap pembiasaan tersebut dimaksudkan agar dimensi-dimensi jasmaniah dan kepribadian individu anak dapat terbentuk dengan memberikan kecakapan berbuat dan berbicara. Tahap pembinaan ini menjadi dasar dan sebagai persiapan untuk kehidupan dan perkembangan kepribadian anak dimasa yang akan datang.
Oleh karena itu pembiasaan-pembiasaan dan latihan-latihan yang merupakan pengalaman bagi anak sejak kecilnya, akan menjadi unsur yang penting dalam pribadinya dan mempunyai pengaruh yang mendalam terhadap kehidupannya kelak, karena kepribadiaannya itu terbentuk dari pengalamannya sejak kecil.
Imam al-Ghazali menjelaskan tentang pendidikan akhlak bagi anak dilingkungan keluarga secara terperinci dan mendalam pada sub bab Kitab Riyadhatun Nafs, Ihya Ulumuddin Juz III; adalah sebagai berikut:
Tentang kesopanan dan kesederhanaan, antara lain kesopanan dan kesederhanaan makan, kesopanan dan kesedrhanaan berpakaian, kesederhanaan tidur, kesopanan dan kedisiplinan. Kesopanan dan kesejahteraan makan.
Imam al-Ghazali mengatakan:
“Yaitu ia memulai dengan membaca basmalah pada awal makan itu, dan di akhirnya membaca hamdalah. Seandainya pada setiap suap itu ia membaca basmalah maka itu baik sehingga kerakusan tidak menyibukkannya dari mengingat Allah Ta’ala.
Ia makan dengan tangan kanan.
Ia mengecilkan suapan dan baik-baik dalam mengunyahnya.
Jangan mencela sesuatu yang dimakan. Dan agar makan apa yang ada di dekatnya dan sebagainya.”

Dari keterangan tersebut diatas Imam al-Ghazali menjelaskan secara rinci, bahwa salah satu hal yang biasa terjadi pada anak-anak adalah mempunyai sifat rakus makan, maka inilah yang perlu diluruskan. Seperti, pada waktu makan senantiasa menggunakan tangan kanannya dan mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim” dan diakhiri dengan membaca “Alhamdulillahirabbil ‘Alamin”, artinya dilepas dari memanjatkan do’a kepada Allah SWT. Anak-anak dianjurkan agar makan yang ada didekatnya saja. Tidak boleh anak itu bersegera makan sebelum orang lain yang lebih tua memulainya, anak-anak tidak boleh memandangi makanan yang dihadapi orang yang disampingnya. Pada waktu makan anak-anak tidak boleh tergesa-gesa, akan tetapi anak-anak diperintahkan makan dengan sebaik-baiknya, antara suapan yang satu dengan suapan yang lainnya jangan terlampau cepat. Dan agar dibiasakan makan tanpa lauk pauk, sehingga tidak selalu suka makan jika tidak ada lauk pauk.
Nilai-nilai pendidikan akhlak pada waktu makan, disamping mendidik akhlak anak dari rakus makan, juga mengandung nilai-nilai pendidikan lainnya, misalnya:
1. Dalam keadaan anak makan bersama keluarga akan tertanam rasa bersatu antara keluarga dan rasa hormat kepada orang yang lebih dewasa.
2. Anak dibiasakan menghargai milik orang lain sebagaimana orang lain menghargai miliknya serta sebagai latihan bekerjasama dengan orang lain.
3. Anak dapat makan sendiri, anak memberikan rasa percaya diri.
4. Orang tua dapat menghormati bagaimana sikap anak pada waktu makan.
Kemudian Imam al-Ghazali mengajarkan kesopanan dan kesederhanaan pakaian, dengan perkataannya sebagai berikut:
وان راي الغالب عليه النظافة فى البدن والتياب ورأي قلبه مائلا إلى ذلك
Artinya:“Dan jika kelihatan yang menonjol pada murid itu, kebersihan pada badan dan pakaian dan kelihatan hatinya condong pada yang demikian.”

Dari keterangan tersebut diatas, Imam al-Ghazali menjelaskan kepada orang tua, agar anak-anak suka berpakaian yang putih dan bersih, dan menjelaskan kepada anak-anak agar jangan berhias yang tidak sepatutnya, atau apasaja yang menimbulkan pemborosan. Apabila hal ini dilakukan oleh anak, nantinya ia hanya mencari kesenangan semata dan berbuat keborosan pada wakti ia dewasa, akhirnya anak menjadi rusak jiwanya, ia menjadi orang yang tidak sabar dan tidak tahan menderita, ia selalu ingin dalam kesenangan, dan membuka pintu untuk menghalalkan segala cara.
Islam bukanlah sekedar suatu formula ritual; Islam adalah proses ketaatan terhadap aturan yang telah ditetapkan oleh Allah berkenaan dengan hubungan antar manusia dengan Dia, dan hubungan antar sesama manusia, baik dalam urusan keluarga, politik, ekonomi, pendidikan.
Karenanya sifat bersenang-senang, kemewahan dan pemborosan pada anak yang mempunyai pengaruh negatif terhadap perkembangan jiwanya harus segera ditangani secara serius, anak segera diluruskan dan dikenalkan secara dini dengan aturan-aturan yang sangat bijaksana sesuai yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian anak-anak terhindar dari jiwa yang tidak sabar, dari jiwa yang kurang tabah dan kurang tahan menderita dan dijauhkan dari sikap mental rendah.
Lebih lanjut Imam al-Ghazali mengajarkan kesederhanaan tidur, seperti disebutkan dalam penjelasan jalan menunjukan manusia pada cela-cela dirinya sebagai berikut:
والرباضة على أربعة أوجه القوة من الطعام والغمض من المنام والحاجة من الكلام وحمل الأذى من جميع الأنام فيتولد من قلة الطعام موت الشهوات ومن قلة المنام صفو الإرادت

Artinya:”Dan latihan itu pada empat cara. Yaitu kekuatan yang berada dari makanan. Memejamkan mata dari tidur. Perkataan yang seperlunya dan menahan rasa sakit dari semua manusia. Dari sedikit makan, terjadilah mati nafsu syahwat. Dari sedikit tidur. Bersihkanlah semua kehendak.”

Dari penjelasan tersebut di atas, dapat dipahami bahwa kedua orang tua agar melarang anak-anak tidur pada waktu siang, sebab hal tersebut banyak menimbulkan kemalasan bekerja dan lain-lain, tetapi pada malam hari anak-anak diperintahkan untuk tidur, namun Imam al-Ghazali menganjurkan sebaiknya anak tidak dibiasakan tidur diatas kasur yang empuk-empuk atau alat-alat tidur serba mewah. Hal semacam itu dipandang kurang baik, karena anggota badan anak-anak akan kaku dan menjadikan mereka malas.
Imam al-Ghazali sangat mengutamakan kedisiplinan bagi anak-anak untuk menghindarkan perbuatan yang tidak pantas dipandang umum dan membiasakan anak-anak untuk berbuat hal yang patut sesuai dengan norma-norma masyarakat yang berlaku.
Imam al-Ghazali meyarankan agar kedua orang tua mengajarkan anak-anaknya, bagaimana duduk yang baik, hendaklah dilarang meletakkan kaki yang satu di atas kaki yang lainnya, demikian pula meletakkan tangan dibawah dagu atau menyandarkan kepala di atas tangan kanan, sebab semua itu dianggapnya tanda-tanda kemalasan.
Imam al-Ghazali juga mengajarkan sopan santun dan disiplin waktu duduk, sekaligus untuk menghindarkan sikap malas bagi anak-anak, agar mereka rajin belajar dan giat bekerja.
Sebagaiman disebutkan Imam al-Ghazali di dalam Kitab Ihya Ulumuddin Juz III sebagai berikut:
وجمع بعضهم علمات حسن الخلق فقال : هو أن يكون كثيرا الحباء قليل الأذي كثيرا العمل الزلل قليل الفضول برواصولا وقورا صبورا شكورا رضيا حليما رفيقا عفيفا شفيقا لا لعنا ولا سباب ولا غماولا مغتابا ولا عجولا ولا حقودا ولا حسودا بشاشايحب في الله ويرضي في الله ويغضب في الله فهذا هو حسن الخلق

Artinya:”Sebahagian dari mereka ada yang mengumpulkan tanda-tanda kebaikan akhlak, lalu ia mengatakan:”Orang baik itu adalah yang banyak malu, sedikit menyakiti orang, banyak berbuat baik, benar lidahnya, sedikit berbicara dan banyak bekerja, sedikit tergelincirnya, sedikit hal-hal yang tidak perlunya, berbuat kebaikan, banyak silaturahimnya, lemah lembut, banyak sabarnya, banyak terimakasihnya, rela kepada barang yang telah ada, dapat mengendalikan diri ketika marah, banyak kasih sayangnya, dapat menjaga diri dan murah hati kepada fakir dan miskin, tidak mengutuk orang lain, tidak suka memaki-maki, tidak suka mengadu domba, tidak mencari cari kesalahan orang lain, tidak tergesa-gesa dalam pekerjaan, tidak pendengki, tidak kikir, tidak ahli hasud, manis muka, bagus lidah, cinta karena Allah, benci karena Allah, rela karena Allah, dan marah karena Allah. Maka mereka itulah yang baik akhlaknya.”

Dari perkataan tersebut diatas, maka dapat dipahami bahwa banyak hal-hal yang berkaitan dengan akhlak yang perlu diajrkan kepada anak-anak selain yang telah disebutkan pada pembahasan tersebut di atas. Seperti dianjurkannya menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya dalam rangka meningkatkan kesehatan. Kemudian mendidik agar anak-anak jangan terlampau banyak bicara yang tidak perlu, anak-anak dilarang berkata kotor, terlebih lagi meyakiti orang lain. Imam al-Ghazali menasihatkan agar anak-anak berlatih berbicara seperlunya, cukup untuk mengutarakan isi hati dan untuk berkomunikasi dengan orang sekitarnya, bukan menghambur-hamburkan waktu untuk mengobrol yang tidak ada manfaatnya.
Imam al-Ghazali menganjurkan agar mendidik anak-anak dilingkungan keluarga dilakukan dengan pembiasaan dan latihan untuk menghindarkan diri dari perbuatan tercela serta tidak sesuai dengan norma masyarakat dan ajaran qur’ani, misalnya:
1. Bersumpah jangan dibolehkan sama sekali, baik pada waktu ia dalam keadaan benar, terlebih lagi jika bersalah. Kepentingannya agar anak-anak tidak membiasakannya sejak kecil, sehingga setelah dewasa ia akan seenaknya dan dengan mudah melanggar sumpah.
2. Bagi anak-anak diberi nasihat agar jangan suka menerima sesuatu pemberian dari kawannya, terlebih lagi jika ia memintanya, hendaklah anak-anak diberi penjelasan bahwa keluhuran budi itu ialah apabila ia memberi dan bukan menerima. Anak-anak dibiasakan untuk suka memberi, hal ini apabila dilatih terus menerus sehingga ia dewasa akan menjadi orang yang dermawan yang suka membantu dan menolong sesama.
3. Bagi anak-anak agar diawasi jangan sampai membangga-banggakan dirinya baik yang berhubungan dengan makan atau pakaian yang diperoleh dari orang tuanya, atau juga menentang keluarganya. Karena yang demikian lambat laun akan merusak jiwanya. Lebih dari itu dikhawatirkan bagi anak-anak tumbuh sifat iri hati karena telah terbiasa hidup mewah.
4. Bagi anak-anak harus dilarang dari segala sesuatu yang ia lakukan dengan sembunyi-sembunyi, karena perbuatan tersebut akan membiasakan anak-anak untuk berbuat jahat. Artinya anak telah mengetahui bahwa perbuatan itu buruk, tetapi ia melakukannya sembunyi-sembunyi karena takut ditegur, takut dimarahi, bahkan mungkin takut dihukum oleh kedua orang tuanya atau gurunya.
5. Agar anak-anak menjauhi segala sesuatu perbuatan yang tercela, seperti mencuri dan makan sesuatu yang diharamkan. Perbuatan baik dan buruk, terpuji atau tercela, bena pribadi benar atau salah, diperintahkan atau dilarang, menurut Imam al-Ghazali dipertimbangkan dan ditetapkan melalui pandangan masyarakat dan syariat Islam.
Kemudian Imam al-Ghazali sangat menganjurkan agar orang tua memberikan pembiasaan dan latihan beribadah kepada anak-anaknya, seperti bersuci, shalat berdo’a, berpuasa bulan Ramadhan dan lain sebagainya, sehingga secara bertahap akan tumbuh rasa senang melakukan ibadah tersebut, dengan sendirinya anak terdorong untuk melakukannya tanpa perintah dari siapa-siapa, tetapi terdorong dari dirinya pribadi dengan penuh kesadaran. Hal ini merupakan suatu kewajiban bagi kedua orang tua untuk melakukannya, sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW.
Bersabda Nabi SAW:
يا أبا هريرة مرأهلك بالصلاة فإن الله يأتيك بالرزق من حيث لا تحتسب

Artinya:” Hai Abu Hurairah! Suruhlah keluargamu untuk shalat! Sesungguhnya Allah akan mendatangkan rizki bagimu dari arah yang tidak kamu sangka.”
Dari perintah tersebut diatas jadi jelaslah bahwa satu keluarga yang banyak mendapat pembiasaan da latihan keagamaan semakin merasakan kebutuhan terhadap pentingnya agama dalam hidup dan kehidupan, baik secara individu maupun kelompok.
Imam al-Ghazali menyarankan agar anak-anak mempelajari berbagai macam ilmu, sebagaimana yang diceritakan dalam nasehat Lukman kepada anaknya, sebagai berikut:
قال يا بني جالس العلماء وزاحمهم بركبتيك فإن الله سبحانه يحي القلوب بنور الحكمة كما يحي الأرض بوابل السماء وقال بعض الحكماء إذا مات العالم بكاه الحوت في الماء والطير في الهواء ويفقد وجهه ولا ينسى ذكره

Artinya:”Lukman berkata: “Hai anakku! Duduklah bersama ulama. Rapatlah mereka dengan kedua lututmu. Sesungguhnya Allah SWT mrnghidupkan hati dengan nur-hikmat (sinar ilmu) seperti menghidupkan bumi dengan hujan dan langit. Sebagian ahli hikmah berkata: “Apabila seorang ahli ilmu meninggal, maka ikan di air dan burung di udara menangisinya. Wajahnya hilang tetapi sebutan namanya tidak dilkupakan.”

Imam al-Ghazali menganjurkan agar anak-anak disibukkan dengan apa-apa yang diterima gurunya dari mempelajari kitab suci Al-Qur’an, Hadits-hadits, sejarah, cerita-cerita orang-orang yang shaleh dan berbakti serta hal ihwal kehidupan mereka. Dengan demikian, maka dalam jiwa anak akan tumbuh benih cinta pada orang-orang yang shaleh.
Imam al-Ghazali selalu menggunakan prinsip-prinsip cerita (hikayat) sebagai metode pencapaian tujuan pendidikan akhlak anak, dalam upaya membentuk tingkah laku tertentu pada anak-anak. Dari metode cerita (hikayat) tersebut kelebihan-kelebihan dibanding metode yang lainnya, antara lain:
1. Metode cerita mengandung unsur hiburan yang sesuai dengan tabi’at manusia senang dengan hiburan dalam upaya meringankan beban hidup sehari-hari.
2. Metode cerita ada watak tertentu yang menjadi teladan bagi pembentukan tingkah laku anak-anak. Dalam kata lain dalam metode cerita terdapat dua tujuan yakni hiburan dan pendidikan.
3. Metode keteladanan adalah cara penyampaian pendidikan akhlak pada anak, dimana orang tua sebagai pendidik memberi contoh teladan dengan melaksanakan nilai-nilai akhlak dalam segala tindakan dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga anak dapat mengikuti dan menirunya.
4. Metode pembiasaan merupakan cara menyampaikan pendidikan akhlak pada anak dengan membiasakan perbuatan-perbuatan yang baik yang sesuai dengan tingkat kemampuannya. Tujuannya adalah untuk membentuk tingkah laku atau akhlak pada anak melalui kebiasaan-kebiasaan yang baik.
5. Metode nasihat adalah cara menyampaikan pendidikan akhlak kepada anak melalui nasihat-nasihat atau petunjuk-petunjuk tentang hal-hal yang baik dan terpuji, dan hal-hal yang buruk dan tercela.
6. Metode ganjaran dan hukuman merupakan metode yang paling akhir dipergunakan dalam menyampaikan pendidikan akhlak, karena adanya ganjaran dan hukuman merupakan akibat dari adanya sebab baik, sedang hukuman adalah akibat dari adanya sebab buruk. Imam al-Ghazali mengatakan:
“tidak setuju dengan cepat-cepat menghukum seorang anak yang salah, melainkan berilah kesempatan untuk memperbaiki sendiri kesalahannya, sehingga ia menghormati dirinya dan merasakan akibat perbuatannya. Sanjung dan pujilah pula bila ia melakukan perbuatan-perbuatan yang terpuji yang harus mendapat ganjaran pujian dan dorongan”
Anak-anak perlu mendapatkan bermacam ilmu pengetahuan dasar untuk mengembangkn minat, agar mereka menguasai akal pikiran, bakat dan minat, agar mereka menguasai ilmu pengetahuan. Demikian ilmu tersebut untuk segera diamalkan dalam kehidupan sehari-hari termasuk untuk memperdalam ilmu pengetahuan berikutnya.
Pemikiran Imam al-Ghazali tentang berbagai macam ilmu diberikan di lembaga pendidikan merupakan dasar pengajaran klasikal dan merupakan dasar-dasar pengembangan kurukulum pendidikan. Karena itu pengalaman-pengalaman dilalui anak dengan berbagai contoh pembiasaan, latihan, anjuran dan larangan, kemudian diberikan penjelasan dan pengertian sesuai dengan taraf pemikirannya tentang norma dan nilai-nilai kemasyarakatan, kesusilaan dan keagamaan. Lalu kemudian tumbuhlah tindakan, sikap, pandangan, pendirian, keyakinan, dan kesadaran kepercayaan untuk berbuat sesuatu yang bertanggung jawab akhirnya terbentuklah budi pekerti yang luhur pada anak menuju dewasanya, yang memberi pengaruh yang bermanfaat kepada akal secara langsung dan dapat pula mempengaruhi jiwa secara baik.
Sesungguhnya pendidikan akhlak sangat dibutuhkan oleh setiap individu maupun masyarakat, karena pengaruh positifnya yang sangat indah akan dirasakan oleh individu dan masyrakat itu sendiri dalam porsiyang sama. Demikin juga dengan dampak negtifnya, ia akan menyebar kepada seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itulah pendidikan akhlak ini wajib dipertahankan dan diperhatikan sejak awal fase umur manusia itu, yaitu dari masa kanak-kanak. Imam al-Ghazali mengatakan hal ini, “Yang dibutuhkan oleh seorang anak adalah perhatian terhadap akhlaknya.”
Penyimpangan dan dekadensi akhlak (moral) yang terjadi di kalangan masyarakat disebabkan karena mereka tumbuh dan berkembang dalam wilayah tarbiyah yang buruk. Maka dari itulah perlunya umat manusia khususnya masyarakat muslim kepada sebuah pendidikan yang mampu membawa umat manusia ini ke puncak ketinggian akhlak, yang menebarkan kebahagiaan dan ketentraman.
Kebutuhan kepada pendidikan akhlak ini mengharuskan orang tua yang berperan penting dalam keluarga untuk menjauhkan anaknya dari majlis lagwu dan kebatilan, seperti tempat hiburan, nyanyian, forum yang dipenuhi oleh perkataan keji dan bid’ah. Karena sesungguhnya hal-hal yang buruk itu apabila telah tersentuh atau melekat pada seorang anak di masa kecilnya, maka akan sulit lepas dimasa besarnya, dan pada orang tua akan merasa kesulitan untuk melepaskannya dari hal-hal yang buruk tersebut. Perlu diperhatikan, bahwa merubah adat kebiasaan adalah perkara yang sangat sulit, karena ia merupakan upaya perubahan dan pembaharuan karakter dan watak yang telah melekat pada individu anak.
Oleh karena itu pembinaan pribadi anak dalam keluarga adalah dengan menanamkan dan membina nilai-nilai kemasyarakatan, kesusilaan, dan keagamaan yang terpadu, sehingga terwujud pula sikap, mental, akhlak yang terpuji.
Tidak ada kebahagiaan dan keberutungan bagi keluarga kecuali dengan menjauhkan anak-anak dari akhlak yang tercela dan menghiasi diri anak-anak dengan akhlak yang utama, dan orang tua yang mengotori diri anaknya dengan akhlak tercela yang merusak, sungguh ia telah membuang kebahagiaan dunia dan akhiratnya.
Imam al-Ghazali mengatakan:
”anak-anak adalah amanah di tangan ibu bapaknya, hatinya masih suci ibarat permata yang mahal harganya, maka apabila ia dibiasakan pada sesuatu yang baik dan dididik, maka ia akan besar dengan sifat-sifat baik serta akan berbahagia dunia akhirat. Sebaliknya jika terbiasa dengan adat-adat buruk, tidak dipedulikan seperti halnya hewan ia akan hancur dan binasa.”
Dari hal tersebut diatas dapat penulis simpulkan bahwa kebiasaan-kebiasaan yang baik pada masa kecil merupakan suatu hal yang sangat penting dalam rangka menanamkan nilai-nilai akhlak pada anak. Sehingga kebiasaan-kebiasaan itu menjadi akhlak pada pribadinya sampai ia dewasa. Kebiasaan yang telah tertanam di waktu kecil akan melekat erat dan sukar dirubah. Ada suatu pepatah yang mengatakan:
التَّعَلَّمُ فِيْ الصِّغَرِ كَالنَّفْسِ عَلَى الْحَجَرِ

Artinya:”Belajar diwaktu kecil laksana mengukir d

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar