Rabu, 20 Mei 2009

KOMUNIKASI PADA MASA KERAJAAN TUA

KOMUNIKASI PADA MASA KERAJAAN TUA
Oleh: Pia Khoirotun Nisa

A. Pendahuluan
Komunikasi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Ia inheren dalam dan sejalan dengan keberadaan manusia. Dari zaman purba sampai peradaban modern, manusia tidak dapat dilepaskan dari komunikasi. Tingkat komunikasi juga mengalami perubahan yang signifikan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Manusia membutuhkan komunikasi untuk mengaktualisasikan diri. Tanpa komunikasi manusia akan terisolasi dengan dunia sekitarnya. Bayangkan kalau manusia hanya diam saja dirumah, tidak mau berkomunikasi dengan dunia sekitarnya . Seperti halnya komunikasi yang terjadi pada masa kerajaan tua terutama pada masa kerajaan Kutai dan Tarumanegara yang akan dibahas dalam makalah berikut;

B. Pembahasan
a. Sejarah Kerajaan Kutai
Berdasarkan bukti-bukti sejarah yang berhasil ditemukan, kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia, letaknya di tepi Sungai Mahakam Kalimantan Timur. Sumber sejarah kerajaan Kutai adalah 7 buah prasasti yang berbentuk Yupa. Yupa ialah tugu peringatan upacara korban. Yupa biasanya digunakan untuk menambatkan hewan yang akan dijadikan korban. Semua yupa tersususn dalam bentuk syair yang menggunakan tulisan Pallawa dengan bahasa Sansakerta. Para ahli menentukan usia yupa dengan meneliti bentuk-bentuk huruf dan bahasa yang digunakan.
Beberapa hal penting yang tercantum dalam prasasti-prasasti tersebut antara lain:
1. Kerajaan Kutai berdiri sekitar tahun 400 M
2. Raja Mulawarman beragama Hindu Syiwa
3. Pembentuk Dinasti adalah Aswawarman.
4. Raja Mulawarman memberikan hadiah 1000 ekor lembu kepada para Brahmana

Pada prasasti Muara Kaman disebutkan bahwa raja pertama Kutai adalah Kundungga. Dilihat dari namanya, Kundungga belum dipengaruhi Hindu. Nama Kundungga adalah nama asli penduduk setempat. Kundungga kemudian diganti oleh putranya yang bernamaAswawarman. Aswawarman berasal dari bahasa Sansakerta, hal ini menunjukan bahwa pada masa pemerintahan Aswawarman pengaruh Hindu telah masuk ke Kerajaan Kutai.
Raja Aswawarman disebut juga Wamsakarta, yang berarti pembentuk keluarga. Aswawarman mempunyai tiga orang putera yang diibaratkan laksana api suci. Putera yang paling terkemuka adalah Mulawarman, yang kemudian menggantikan ayahnya menjadi raja. Pada masa pemerintahan mulawarman inilah dibangun prasasti Muara Kaman, oleh sebab itu prasasti muara Kaman disebut juga prasasti mulawarman.
Pada sebuah Yupa diterangkan bahwa Raja Mulawarman adalaha raja mulia dan terkemuka, yang telah memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada para brahmana ditanah suci waprakeswara (Tanah suci yang ditinggikan untuk menyembah Dewa Syiwa).
Dalam salah satu yupa peninggalan kerajaan Kutai disebutkan suatu tempat yang diberi nama vaprakecvara. Oleh ahli sejarah kata vaprakecvara diartikan sebagai lapangan luas tempat pemujaan. Kata vaprakecvara dihubungkan dengan Dewa Siwa.

Hal-hal itu didukung oleh beberapa factor, antara lain:
1. Besarnya pengaruh kerajaan Pallawa yang beragama Siwa menyebabkan agama Siwa terkenal di Kutai.
2. Pentingnya peranan para brahmana di Kutai menunjukan besarnya pengaruh brahmana dalam agama Siwa terutama mengenai upacara kurban.

Dengan adanya prasasti Muara Kaman, dapat disimpulkan beberapa hal, antara lain:
1. Pada awal abad ke-5 masehi agama dan budaya hindu telah masuk ke Indonesia
2. Raja-raja Kutai adalah orang Indonesia asli. Hal ini terbukti bahwa raja pertamanya bernama Kundungga, yang merupakan nama asli Indonesia.
3. Sejak kekuasaan raja Aswawarman raja-raja kutai beragama Hindu, mereka memakai nama dengan bahasa sansakerta.
4. kebiasaan membangun tugu merupakan kebiasaan Indonesia sejak Zaman nenek moyang, tetap dilanjutkan. Kebiasaan ini dipadukan dengan budaya Hindu, terbukti tugu-tugu tersebut ditulis dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansakerta.

b. Sejarah Kerajaan Tarumanegara
1. Berdirinya kerajaan Tarumanegara
Sekitar tahun 450 Masehi, di Jawa Barat muncul sebuah kerajaan Hindu, yaitu Tarumanegara. Tarumanegara meninggalkan tujuh buah Prasasti.
2. Sumber Sejarah
Sumber sejarah Tarumanegara ada 2 macam, yaitu 7 prasasti dan berita Cina. Ketujuh prasasti adalah:
a. Prasasti Tugu menyatakan bahwa raja Purnawarman menggali sungai Gomati, setelah selesai memberikan 1000 ekor lembu kepada para Brahmana. Parasasti tugu merupakan parasasti yang terakhir ditemukan. Prasasti ini


memiliki berita paling panjang disbanding prasasti-prasasti lain yang berkisah tentang kerajaan Tarumanegara.
b. Prasati Kebon ditulis pada sebuah batu besar dengan lukisan dua telapak kaki gajah yang bunyinya antara lain “Inilah dua telapak kaki gajah yang seperti airawata, gajah penguasayng gagah perkasa.”
c. Prasasti Ciaruterum dipahatkan pada batu besar dengan lukisan telpak kaki manusia, bunyinya “inilah dua bekas tlapak kaki yang mulia penguasa negeri trauma”. Terletak dipinggir sungai Ciaruteun dan bermuara di dekat Sungai Cisadane. Parasati ini sebelumnya dikenal dengan nama Prasasti Ciampea.
d. Prasasti Lebak ditemukan di lebak, Banten Selatan.
e. Prsasati Muara Cianten
f. Prasasti jambu atau prasasti Pasir Koleangkak, terletak didaerah perkebunan jambu, berjarak 30 km sebelah barat Bogor.
d. Prasasti Pasir Awi

Sedangkan berita Cina yang ditulis oleh Fa-Hien menyebutkan di Pulau Jawa (Negeri Taruma) penduduknya belum banyak yang beragama seperti diriny yaitu Buddha. Fa Hien seorang pendeta Cina pernah singgah dikerajaan Tarumanegara selama lima bulan pada tahun 414 Masehi. Menurutnya, banyak penduduk Kerajaan Tarumanegara yang telah menganut agama Buddha
3. Pemerintahan
Kerajaan Tarumanegara diperintah oleh Raja Purnawarman. Dia adalah orang Indonesia asli yang menggunakan nama Sansakerta. Hal ini menunjukan bahwa pada abad ke-5 agama dan budaya hindu telah masuk ke jawa Barat.
Purnawarman adalah raja yang sangat baik. Dalam Prasasti Tugu dikatakan bahwa Raja Purnawarman telah menggalir Sungai Gomati dalam masa pemerintahanya yang ke-22. Panjang sungai sekitar 12 kilometer yang dikerjakan dalam
waktu 21 hari. Pada akhir pekerjaan penggalian, Raja Purnawarman kemudian memberikan hadiah 1000 ekor lembu kepada para brahmana. Hal tersebut membuktikan bahwa Raja Purnawarman selalu berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.

c. Proses Komunikasi
Bagaimana proses komunikasi yang berlangsung pada masa kerajaan tersebut, dimana proses komunikasi tersebut terdiri dari 4 proses komunikasi diantaranya:
1. Downward Communication (Komunikasi pada bawahan atau rakyat kecil)
2. Upward Communication (Komunikasi pada atasan atau Raja yang bekuasa)
3. Horizontal Communication (Komunikasi Horizontal atau komunikasi yang hanya berkembang dilingkungan keluarga kerajaan)
4. Vertical Communication (komunikasi secara Vertikal atau komunikasi yang tertulis dalam prasasti).

1. Downward Communication
Downward Comunicatin merupakan proses komunikasi pada bawahan yang biasa ditujukan kepada rakyat kecil atau masyarakat dengan tujuan untuk menghubungkan komunikasi yang terjadi setiap harinya didalam masyarakat yang berada diluar kerajaan yang didasarkan atas kebutuhan sehari-hari semata, bukan mengenai masalah kerajaan. Maka dalam proses komunikasi ini hubungan komunikasi rakyat dengan raja terputus oleh perbedaan status, dimana arus umpan balik/feed back dari rakyat kepada raja hamper tidak pernah ada.

2. Upward Communication
Upward Communication merupakan proses komunikasi yang terjadi pada atasan atau raja yang berkuasa dimana memiliki fungsi dan efek pada penyempurnaan moral dalam mensukseskan suatu pemerintah kerajaan dimana arus komunikasi mampu memberikan informasi yang berharga seperti:
a. Besarnya pengaruh kerajaan Pallawa yang bernama Siwa menyebabkan agama Siwa terkenel dikutai.
b. Pentingnya peranan brahmana di Kutai menunjukan besarnya pengaruh brahmana dalam agama Siwa.
Dapat diketahui dari hal diatas bahwa arus komunikasi ini berfungsi sebagai balikan bagi Raja dalam memberikan petunjuk tentang keberhasilan suatu pesan yang disampaikan kepada brahmana atau para panglima kerajaan yang mampu memberikan stimulus kepada kejayaan kerajaannya.

3. Horizontal Communication
Horizontal communication merupakan komunikasi yang hanya berkembang dilingkungan keluarga kerajaan baik yang berkaitan dengan kerajaan, baik yang berkaitan dengan masalah kenegaraan maupun segala titah serta kebijaksanaan raja. Dimana komunikasi horizontal ini berlangsung hanya pada pertukaran pesan diantara orang-orang yang sama tingkatan otoritasnya didalam sebuah kerajaan pesan yang mengalir menurut fungsi dalam kerajaan yang diarahkan secara horizontal, dan pesan tersebut biasanya berhubungan dengan tugas-tugas atau tujuan kemanusiaan, seperti koordinasi, pemetaan masalah, penyelesaian konflik, dan salin memberikan informasi seperti contoh berikut:

1. Dalam Kerajaan Kutai, raja Mulawarman memberikan hadiah1000 ekor lembu kepada para brahmana.
2. Dalam Kerajaan Tarumanegara Raja Purnawarman menggali sunagi Gomati untuk keperluan hidup dan perekonomian rakyatnya dibidang agraris (pertanian) dan sebuah saluran irigasi yang dituduhkan pengetahuan tentang teknis bangunan.

4. Vertical Communication
Vertical Communication merupakan komunikasi secara vertical dimana komunikasi ini tertulis dalam prasasti yang menggambarkan karakteristik para raja dimasa kerajaan tersebut seperti kegagahan dan keagungan para raja ,misalnya:
a. Di dalam Kerajaan Kutai, tertulis dalam sebuah Yupa yang menerangkan bahwa Raja Mulawarman adalah raja mulia dan terkemuka, yang telah memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada para brahmana ditanah suci Waprakeswara (Tanah suci yang ditinggikan untuk menyembah Dewa Siwa).


b. Sedangkan, pada Kerajaan Tarumanegara ditemukan prasasti Tugu yang menyatakan bahwa raja purnawarman menggali sungai Gomati. Setelah selesai memberikan 1000 ekor lembu kepada para brahmana. Prasasti Tugu merupakan prasasti yang juga menuliskan bahwa raja Purnawarman adalah raja yang sangat baik yang selalu berusaha meningkatkan kualitas
kesejahteraan rakyatnya.

D. Kesimpulan
Proses Komunikasi yang terjadi pada kerajaan Kutai dan Tarumanegara berlangsung secara ;
Downward Communication (Komunikasi pada bawahan atau rakyat kecil), Upward Communication (Komunikasi pada atasan atau Raja yang bekuasa), Horizontal Communication (Komunikasi Horizontal atau komunikasi yang hanya berkembang dilingkungan keluarga kerajaan), Vertical Communication (komunikasi secara Vertikal atau komunikasi yang tertulis dalam prasasti).

Daftar Pustaka

http:/www1.bpk penabur.or.id/Jelajah/v3n8/07.pdf
LKS SHOLA,Penerbit Harapan Makmur, BAB II Kerajaan-kerajaan Hindu Budha di Nusantara
Muhammad Arni Dr, Komunikasi Organisasi, Bumi Aksara 2000, cet ke-2

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar