Rabu, 20 Mei 2009

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SECARA TERPADU

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SECARA TERPADU
Oleh: Pia Khoirotun Nisa
A. Pendahuluan
Pada dasarnya tujuan pendidikan adalah memelihara fitrah manusia. Untuk tujuan itu manusia dituntut menciptakan metode pendidikan yang dinamis, efektif, dan dapat mengantarkannya pada kebahagian hidup dunia dan akhirat. Kenyataannya, dewasa ini kita mnemukan banyak metode bukan hanya tidak efektif, melainkan juga menjerumuskan manusia pada penyimpangan fitrah. Tragisnya, metode seperti itu sudah demikian menggejala dalam kehidupan manusia sehingga lahirlah manusia yang kehilangan kepercayaan diri.
Pendidikan Islam pun memiliki berbagai sarana material yang diwujudkandalam bentuk media pendidikan, misalnya masjid, sekolah, perlengkapan belajar mengajar, dan guru-guru yang kompeten dalam bidangnya masing-masing.

B. Pembahasan

a. Proses hubungan antara sekolah dan keluarga, hubungan antara sekolah dan masyarakat.
Proses hubungan antara sekolah dan keluarga
Dalam perkembangannya, sekolah-sekolah baru dapat didirikan seperti sekarang setelah melampaui periode yang cukup panjang. Pengetahuan awal seorang anak bermula dari orang tua dan masyarakat yang secara tidak langsung memberikan berbagai pengetahuan dasar walaupun tidak sistematis. Pengetahuan itu diperoleh anak melalui berbagai cara, diantaranya melalui peniruan, pengulangan, atau pembiasaan.
Rumah keluarga muslim adalah benteng utama tempat anak-anak dibesarkan melalui pendidikan Islam. Yang dimaksud dengan keluarga muslim adalah keluarga yang mendasarkan aktivitasnya pada pembentukan keluarga yang sesuai dengan syariat Islam. Berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah, kita dapat mengatakan bahwa tujuan terpenting dari hubungan keluarga dan sekolah adalah :
• Mampu mengajarkan siswa untuk bersikap hormat dan sopan santun dalam segala hal
• Mampu mengajarkan siswa untuk tidak berkata kotor atau kasar yang dapat menyinggung dan menyakiti hati ibu bapak.
• Mampu mengajarkan anak untuk bersikap membantu pekerjaan orang tua dengan senang hati dan selalu bermuka manis kepada keduanya.
• Mengajarkan siswa tatacara berterimaksih kepada orang tua dan gurunya disekolah.
• Mengajarkan siswa untuk meminta izin apabila hendak meninggalkan rumah.
• Orang tua dan guru selalu mendoakan anaknya maupun anak didiknya dalam rangka mencapai suatu keberhasilan yang diharapkan.


Proses hubungan antara sekolah dan masyarakat
Proses hubungan antara sekolah dan masyarakat terhadap pendidikan anak-anak menjelma beberapa perkara dan cara yang dipandang merupakan metode pendidikan masyarakat utama. Proses hubungannya adalah:
1. Allah menjadikan masyarakat sebagai penyuruh kebaikan dan pelarang kemunkaran sebagaimana diisyaratkan Allah dalm firmanNya ini;
“Danb hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru pada kebajikan, menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang beruntung.” (Ali Imran:104).
2. Dalam masyarakat Islam, seluruh anak-nak dianggap anak sendiri atau anak saudaranya sehingga ketika memanggil seorang anak, siapa pun dia, mereka akan memanggilnya dengan “Hai anak saudaraku!”; dan sebaliknya, setiap anak-anak atau remaja akan memanggil setiap orang tua dengan panggilan, “Hai Paman!”. Hal itu terwujud berkat pengalaman firman Allah dalam surat al-Hujurat;10:
“ Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara…” Semenjak terbitnya fajar Islam, kaum muslimin telah merasakan tanggung jawab bersama untuk mendidik generasi muda.
3. Untuk menghadapi orang-orang yang membiasakan dirinya berbuat buruk, Islam membina mereka melalui salah satu cara membina dan mendidik manusia, yaitu kekerasan atau kemarahan.
4. Masyarakat dapat melakukan pembinaan melalui pengisolasian, pemboikotan, atau pemutusan hubungan kemasyarakatan.
5. Pendidikan kemasyarakatan dapat juga dilakukan melalui kerja sama yang utuh karena bagaimanapun masyarakt muslim adalah masyarakat yang padu.
6. Pendidikan kemasyarakatan bertumpu pada landasan afeksi masyarakt, khususnya rasa saling mencintai.
7. Pendidikan masyarakat mampu mengajak generasi muda untuk memilih teman dengan baik dan berdasarkan ketakwaan kepada Allah.

b. Materi: Keterkaitan mata pelajaran agama Isalam dengan mata pelajaran lain seperti: Matematika, IPS, IPTEK

Al-Qur’an bukanlah kitab karya ilmu pengetahuan. Ia adalah wahyu Allah. Karena itu sistematika dan gaya bahasanya berbeda dengan buku-buku karya ilmiah. Tetapi diakui ia memberikan inspirasi untuk mengembangkan karya ilmiah. tetapi diakui I memberikan inspirasi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan-tekhnologi.
Menurut Quraish Shihab (1993:59-50) Al-Qur’an merupakan:
 Kitab hidayah dalam hal aqidah, tasyri (hukum0 dan akhlaq, demi kebahagiaan hidup di dunia maupun diakhirat.
 Tiada pertentangan antara al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan
 Al-Qur’an mendorong agar ilmu pengetahuan lebih maju.
 Memahami ayat al-Qur’an sesuai dengan penemuan-penemuan baru adalah ijtihad yang baik


Keterkaitannya adalah:
Mengemukakan hubungan al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan
Mengemukakan prinsip-prinsip Al-Qur’an mengenai manusia dan alam
Mengemukakan prinsip-prinsip epistemologi menurut Al-Qur’an
Mengemukakan prinsip-prinsip IPTEK di dalam Al-Qur’an.
C. Kesimpulan
Beragama sesungguhnya berupaya untuk menjadi makhluk yang sejati adalah makhluk yang sejati adalah makhluk yang menjunjung tinggi kodratnya dan setia dengan martabat kejadiannya sesuai dengan maksud dan tujuan ia diciptakan.
Islam bukan sekedar mendudukan makhluk pada ketinggian kodrat dan martabatnya, melainkan juga untuk menyelamatkan mereka dalam habitatnya masing-masing. itubsebabya Al-Qur’an menyatakan semua makhluk berislam, terutama secara fisik dan naluri.


D. Referensi

Abdurahman An Nahlawi, Pendidian Islam dirumah sekolah dan masyarakat,( Jakarta: Gema Insani Press, 1995)
Drs. Supriadi, M.Ag., Dra. Hasanah, M.Ag., Drs. Pabali H. Musa, M.Ag., Pendidikan Agama Islam, ( Jakarta: Cv Grafika Utama, 2001)
Departemen Agama RI, Proyek pengadaan kitab suci Al-Qur’an, ( Jakarta: 1987)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar