Jumat, 17 Juli 2009

PERANAN AGAMA DALAM BIMBINGAN DAN PENYULUHAN

A. PENDAHULUAN

Kita semua menyadari bahwa permasalahan kependidikan khususnya kependidikn agama dalam strategi pembangunan nasional Indonesia merupakan komponen yang sangat penting. Untuk menyukseskan diperlukan kerja sama yang erat antara keluarga, masyarakat, dn pemerintah, sebagai tiga serangkai penanggung jawab pendidikan (Tri Tunggal Pendidikan).
Dengan memperhatikan sasaran pokok pendidikan, yaitu anak didik pada semua jenjang kependidikan yang masih berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, maka, agar proses perkembangan/ pertumbuhan mereka dapat mencapai titik optimal yang berkualitas diperlukan bantuan ahli-ahli kependidikan, dan pendidik serta pembimbing yang mau memahami dan mendalami jiwa dan kecenderungan-kecenderungan perkembangan anak didik. Berikut akan dibahas mengenai peranan agama dalam bimbingan dan penyuluhan.

B. PEMBAHASAN

Program bimbingan penyuluhan agama merupakan penunjang bagi pelaksanaan program pendidikan disekolah, terutama pendidikan agama. Melalui peningkatan pelaksanaan program bimbingan dan penyuluhan agama, program pendidikan/pengajaran di sekolah dan luar sekolah akan lebih lancar pelaksanaannya, karena:
a. Bimbingan dan penyuluhan agama mengungkapkan kemampuan dasar mental spiritual dan agama pribadi anak untuk diaktualisasikan dan difungsikan menjadi tenaga pendorong (motivator) bagi peningkatan proses kegiatan belajar mengajar anak didik.
b. Bimbingan dan penyuluhan agama berusaha meletakkan kemampuan mental spiritual tersebut sebagai benteng pribadi anak didik dalam menghadapi tantangan rongrongan dari luar dirinya, baik yang berbentuk mental maupun yang berbentuk material (kebendaan).
c. Bimbingan dan penyuluhan agama berusaha mencerahkan kehidupan batin sehingga segala kesulitan yang dihadapi akan mudah di atasi dengan kemampuan nmental rohani nyang cerah tersebut.
d. Bimbingan dan penyuluhan agama berusaha menanamkan sikap dan orientasi kepada hubungan dalam empat arah, yaitu dengan Tuhannya dengan masyarakatnya, dengan alam sekitarnya dan dengan dirinya sendiri, sehigga menjadi pola hidup yang bersendikan nilai-nilai agama.

Kita menyadari bahwa dalam masyarakat modern saat ini bermunculan masalah-masalah sosial dan perkembangan ilmu dan tekhnologi yang besar dampaknya atau pengaruhnya terhadapnkehidupan remaja/anak didik kita, baik bersifat negatif ataupun positif, maka bimbingan dan penyuluhan agama aemakin diperlukan untuk meyukseskan program pendidikan disekolah dan diluar sekolah.


1. Guru Agama Sebagai Pendidik dan pembimbing

Tugas dan fungsi guru dalam proses kependidikan di sekolah (madrasah)tidak hanya sebagai pengajar ilmu pengetahuan semata-mata melainkan juga bertugas sebagai pendidik dan pembimbing atau counselor.
Bagi guru agama, karena tugas pokoknya mendidik dan mengajarkan pengetahuan agama dan menginternalisasikan serta mentransformasikan nilai-nilai agama kedalam pribadi anak didik yang tekanan utamanya adalah mengubah sikap dan mental anak didik ke arah beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta mampu mengamalkan ajaran agama, maka secara built-in, ia adalah pembimbing atau counselor hidup keagamaan anak didik. Tugas guru agamayang sekaligus menjadi counselor memang lebih berat dibanding dengan seorang guru umum yang berfungsi juga sebagai counselor bidang nonagama.
Guru agama dipandang oleh murid-muridnya sebagai pembawa norma agama yang diajarkan di sekolah dan juga dipandang oleh lingkungan masyarakatnya sebagai tokoh (pemuka) agama yang mencerminkan norma-norma ajaran agamanya ditengah hidup masyarakat (lingkungan) sekitar. Dimanapun berada ia menjadi panutan dibidang nilai-nilai hidup keagamaan.
Perkembangan jiwa agama pada anak didik saat dibimbing oleh seorang guru agama, dapat mengetahui dan mengenal ciri-ciri dan dinamika yang tersembunyi di dalam diri tiap-tiap anak didik yang beragama. Maka anak didik akan dengan sendirinya mempunyai kecenderungan kepada hidup dalam aturan-aturan agama, akan terbiasa menjalankan ibadah, takut melangkahi larangan-larangan agama dan dapat merasakan betapa nikmatnya hidup beragama.
Karena guru agama adalah pusat kehidupan rohani anak didik disekolah dan sebagai penyebab berkenalannya dengan alam luar, maka reaksi emosi anak didik dan pemikirannya kelak , terpengaruh oleh sikapnya terhadap bimbingan yang diberikan seorang guru agama.
Perasaan si anak didik terhadap guru agama, sebenarnya sangat kompleks, ia adalah campuran dari bermacam-macam emosi dan dorongan yang selalu melakukan interaksi, pertentangan ataupun kekaguman dan penghargaan. Pelatihan-pelatihan keagamaan yang diberikan dapat menumbuhkan nilai-nilai dan rasa aman. jadi guru agama mempunyai tugas yang cukup berat, yaitu ikut membina pribadi anak disamping mengajarkan pengetahuan agama kepada anak. Guru agama juga harus memperbaiki pribadi anak yang telah terlanjur rusak, karena pendidikan dalam keluarga
Guru agama harus membawa anak didik semuanya kepada arah pembinaan pribadi yang sehat dan baik. Setiap guru agama harus menyadari, bahwa segala sesuatu pada dirinya akan merupakan unsur pembinaan bagi anak didik. Disamping pendidikan dan pengajaran yang dilaksanakan dengan sengaja oleh guru agama dalam pembinaan anak didik, juga yang sangat penting dan menentukan pula adalah kepribadian, sikap dan cara hidup guru itu sendiri, bahkan cara berpakaian, cara bergaul, berbicara, dan menghadapi setiap masalah, yang secara langsung tidak tampak pembinaan pribadi si anak, hal-hal itu sangat berpengaruh.

Dalam menjalankan tugasnya tersebut maka dibutuhkan adanya syarat-syarat tertentu diantaranya:
a. Memiliki pribadi mukmin, muslim dan muhsin
b. Taat untuk menjalankan agama (menjalankan syariat Islam, dapat memberi contoh tauladan yang baik anak didik yang sedang dalam bimbingannya).
c. Memiliki jiwa pendidik dan rasa kasih sayang kepada anak didik yang sedang dalam bimbingannya dan ikhlas jiwanya.
d. Mengetahui dasar-dasar ilmu pengetahuan tentang keguruan, terutama Didaktik dan Methodik.
e. Menguasai ilmu pengetahuan agama
f. Tidak mempunyai cacat rohaniyah danm jasmaniyah dalam dirinya.
g. Guru agama harus zuhud, yakni ihlas dan bukan semata-mata bersifat materialis
h. Bersih jasmani dan rohani, dalam berpakaian rapi dan bersih, dalam akhlaknya juga baik
i. Bersifat pemaaf, sabar, dan pandai menahan diri
j. Seorang guru pembimbing harus terlebih dahulu merupakan seorang bapak/ibu sebelum ia menjadi seorang guru (cinta kepada murid-muridnya seperti anaknya sendiri)
k. Mengetahui tabiat dan tingkat berfikir anak.


2. Sistem Pendekatan Dari Tugas Dan Fungsi Bimbingan Dan Penyuluhan
Sistem pendekatan pendidikan agama berupa kegiatan, pengetahuan dan pengalaman yang dengan sengaja dan sistematis diberikan kepada anak didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan agama. Dimana semua pengetahuan, aktifitas (kegiatan-kegiatan) dan juga pengalaman-pengalaman yang dengan sengaja dan secara sistemtis diberikan oleh pendidik kepada anak didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan agama. dalam sistem pendekatan dari segi tugas harus memperhatikan faktor-faktor antara lain:
1). Penyesuaian dengan tujuan pendidikan agama (Perumusan tujuan secara tegas)
2). Penyesuaiannya dengan tingkat usia, tingkat perkembangan anak dan kemampuan anak didik.
Adapun tujuan pendidik serta pembimbing agama ialah;
1. Mengajarkan serta mengadakan bimbingan ilmu pengetahuan agama Islam
2. Menanamkan keimanan dalam jiwa anak
3. Mendidik anak agar taat menjalankan agama
4. Mendidik anak agar berbudi pekerti yang mulia.

Dari uraian diatas terdapat beberapa pendekatan dari tugas dan fungsi bimbingan dan penyuluhan diantaranya adalah:

a. Pendekatan dari segi sosio kultural

Menurut Parcival W. Hutsan, salah seorang guru besar pendidikan Universitas Pittburg, Amerika Serikat berpendapat bahwa pekerjaan counseling tidak dapat dilksanakan dalam masyarakt yang vacum. Oleh karena itu, setiap kegiatan counseling dan tiap program bimbingan sellu dalam suatu iklim sosial tertentu. Pelaksanaan tugas guidance dan counseling harus memperhitungkan kekuatan-kekuatan sosial, yang harus disadari dengan psikologi sosial. Dapat disimpulkan bahwa tugas guidance counselormenurut pandnagan diatas adalah melalukan bimbingan terhadap anak bimbing sebagai anggota masyarakat agar mampu melakukan penyesuaian diri dengan perubahan nilai-nilai sosial kultural dalam kehidupan masyarakat. Penyesuaian diri terhadap kondisi sosial kultural dari anak bimbing tersebut harus berlangsung secara bertahap dan terarah sehingga tidak menimbulkan schock mental mereka. Manifestasi dari schock mental karena pengaruh perubahan sosial, dapat mendorong anak kearah kenakalan (deliqunency) yang mengakibatkan gangguan terhadap kegiatan belajar mereka disekolah dan diluar sekolah.
Konflik tentang nilai yang benar dan yang salh dalam pribadi anak bimbing senantiasa mengganggu perkembangan kecerdasan dan perasaan mereka, akibat mereka menyaksikan penerapan nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari yang bertentangan dengan teori yang mereka pelajari.
Antara kenyataan (das sein) dengan yang seharusnya (das sollen) terdapat kesenjangan yang semakin lebar. Konflik batin inilah yang dapat menimbulkan ketidakpercayaan terhadap ajaran agama, kemudian timbul kecenderungan mencari-cari nilai yang diyakini kebenarannya yang belum tentu benar, karena hanya diukur dengan seleranya. Jadi, dilihat dari segi pendekatan ini, tugas dan fungsi guidance counselor adalah sebagai social self-adjustive guidance counselor (pembimbingdan penyuluh yang membimbing anak ke arah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan harapan masyarakatnya).

b. Pendekatan dari segi edukatif

Dari segi pendekatn edukatif ini, seorang counselor (pembimbing) mempunyai tugas yang cukup beratyang menurut pandangan Gilbert Wrenn, seorang ahli bimbingan dan counseling Universitas Negeri Arizona, Amerika Serikat, harus memiliki kriteria sebagai berikut:
• Seorang counselor sekolah adalah pendidik yang mendapat pendidikan/latihan profesional sekurang-kurangnya berijazah Master of Art atau doktor.
• Seorang counselor adalah seorang generalis (yang pengetahuannya luas tetapi tidak mendalam) tentang sejumlah fungsi sekolah, tetapi juga bisa sseorang spesialis dalam salah satu bentuk pelayanan yang khusus.
• Klien dari counselor di sekolah meliputi guru-guru, orang tua murid, administrator, dan siswa itu sendiri.
• Keterampilan counselor sekolah jangan hanya terbatas pada kegiatan hubungan dengan klien, orang tua, administrator, dan sebagainya, tetapi yang lebih esensial adalah bekerja secara efektif dengan group (kelompok) siswa.
• Counselor harus lebih banyak memperhatikan kebutuhan pertumbuhan siswa yang normal dan terhadap perkembangan kepribadian siswa yang normal terhadap krisis karena timbulnya problem.
• Counselor sekolah harus memiliki tingkat kedalaman dan kematangan psikologis, sesuai dengan harapn siswa (anak bimbing), para guru, administrator, dan orang tua siswa. Tingkat kedalaman dan kematangan psikologis tersebut sesuai dengan pendidikan professional dan pengembangan kariernya lebih lanjut.

c. Pendekatan dari segi Agama

Pendekatan dari segi agama (Islam), pendektn ini telah berorientasi kepada kekuatan iman seseorang yang menurut pandangan agama menjdi sentralnya tenaga penggerak atau motivasi dalam tingkah laku sehari-hari. Oleh karena itu, daya kekuatan iman seseorang perlu counseling. Sebagai contoh, Dr. Carl Gustav Jung, salah seorang dokter jiwa Swiss yang berpengalaman dalam proses penyembuhan pasien-pasiennya yang menderita penyakit jiwa disebabkan oleh cahaya dari keimanan dari nilai keagamaan telah lenyap dari dalam pribadi mereka . Penyembuhannya tidak dapat diperoleh kecuali jika mereka mendapatkan kembali cahaya keimanan dari nilai-nilai keagamaannya. Pengalaman C.G. Jung tersebut membuktikan bahwa antara penyakit dengan kedalamn hidup keagamaan seseorang terdapat korelasi positif.

C. KESIMPULAN

Dari apa yang telah di uraikan diatas pemakalah dapat menyimpulkan bahwa seorang Counselor (Pembimbing) bertugas melaksanakan kegiatan-kegiatannya adalah sebagai berikut:
1. Bekerja sama dengan murid
2. Bekerja sama dengan orang tua murid
3. Bekerja sama dengan rekan-rekan seprofesi dan msyarakat
4. Melakukan promosi dan hubungan dengan orang lain bagi kepentingan anak bimbingnya.
Keempat tugas tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan counselor selalu berkaitan dengan kepentingan hidup orang lain, baik kepentingan anak bimbing maupun anggota masyarakat yang memerlukan bantuannya.
Jiwa sosial dan dedikatif amat diperlukan oleh seorang counselor terutama counselor bidang pendidikan remaja, seolah-olah diri pribadinya bgaikan lilin yang menyal dengan api yang menerangi hidup orang lain, sedangkan dirinya sendiri (mengikhlaskan diri) meleleh dalam panasnya api itu sendiri. Perumpamaannya itu terlalu ideal, yang tidak mudah diterpkan oleh Counselor dalam kenyataan hidupnya. Yang jelas, counselor adalah jabatan pengabdian kepada orang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar